
Mojtaba Khamenei, 56 tahun, menggantikan ayahnya yang tewas terbunuh dalam gelombang pertama serangan Amerika Serikat dan Israel (Foto: AFP)
Penulis: Fityan
TVRINews - Teheran
Fokus Konsolidasi Kekuatan Militer dan Keamanan Nasional di Tengah Ancaman Perang.
Era baru yang penuh ketidakpastian dimulai di Republik Islam Iran. Mojtaba Khamenei, putra kedua dari mendiang Ayatollah Ali Khamenei, kini resmi memegang tampuk kekuasaan tertinggi sebagai Pemimpin Agung ketiga sejak Revolusi 1979.
Naiknya sosok berusia 56 tahun ini terjadi di titik nadir sejarah Iran dalam lima dekade terakhir. Ia mewarisi takhta teokrasi saat negara tersebut berada dalam pusaran konflik eksistensial, baik dari tekanan militer luar negeri maupun gejolak perlawanan di dalam negeri.
Mandat di Tengah Puing Kehancuran
Pemilihan Mojtaba oleh Majelis Ahli lembaga yang terdiri dari 88 ulama Syiah disambut dengan narasi kontradiktif.

Seorang wanita memegang foto Mojtaba Khamenei, dalam sebuah rapat umum di Teheran. Foto: 9 Maret 2026 (Foto: EPA)
Di satu sisi, pangkalan militer dan stasiun televisi pemerintah menyiarkan dukungan penuh. Pasukan keamanan serentak menyatakan kesetiaan hingga "tetes darah terakhir" kepada panglima tertinggi mereka yang baru.
Bahkan, rudal-rudal pertama yang diluncurkan pasca-suksesi ini dilaporkan memuat pesan khusus: "At your service, Seyyed Mojtaba."
Namun, di balik dinding apartemen di Teheran, suasana jauh dari kata seragam. Sisa-sisa kemarahan dari protes Januari lalu kembali mencuat.
Beberapa warga dilaporkan meneriakkan slogan perlawanan terhadap suksesi yang dianggap memperkuat rezim garis keras.
Bagi keluarga ribuan korban yang tewas dalam tindakan keras pemerintah sebelumnya, naiknya Mojtaba adalah sinyal bahwa sistem yang represif mungkin akan menjadi jauh lebih kaku.
Sosok di Balik Bayang-Bayang
Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba adalah tokoh yang jarang tampil di depan publik. Selama puluhan tahun, ia bekerja di balik bayangan, memahami seluk-beluk "negara dalam" (deep state) Iran.

Mojtaba Khamenei saat memegang tangan kedua anaknya (Foto: DOK Mohammad Mohsenifar Via MEHR News Agency)
Ia memiliki kedekatan ideologis dan taktis dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), institusi yang kini memegang kendali atas sistem keamanan berlapis dan imperium ekonomi raksasa Iran.
Seorang pejabat Barat yang mengikuti perkembangan di Teheran menggambarkan situasi ini sebagai ujian terbesar bagi seorang pemimpin yang "belum pernah teruji sepenuhnya secara publik."
Dendam Pribadi & Eskalasi Regional
Suksesi ini bukan sekadar urusan politik, melainkan juga masalah personal yang mendalam. Serangan Israel yang menewaskan Ali Khamenei di kompleks kediamannya turut merenggut nyawa ibu Mojtaba, Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh, istrinya Zahra Haddad-Adel, serta putranya.
Kondisi ini menempatkan Iran pada jalur tabrakan langsung dengan musuh-musuh bebuyutannya.
Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa sosok Mojtaba "tidak dapat diterima" dan memperingatkan bahwa kekuasaannya "tidak akan bertahan lama."
Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Israel Yoel Katz melabeli sang Pemimpin Agung baru sebagai "target yang tidak ambigu."
Masa Depan: Reformasi atau Konsolidasi?
Di tengah dominasi kelompok garis keras (Prinsipilis), muncul spekulasi mengenai arah kebijakan Mojtaba. Abdolreza Davari, seorang politisi yang dekat dengan lingkaran kekuasaan, memberikan pandangan berbeda dalam wawancara dengan New York Times.
Ia menyebut Mojtaba sebagai sosok yang "sangat progresif" dan berpotensi meminggirkan kelompok garis keras, serupa dengan transformasi yang dilakukan Pangeran Mohammed bin Salman di Arab Saudi.
Namun, dengan perang yang meluas di Timur Tengah dan ekonomi yang terguncang, peluang untuk pergeseran seismik tersebut tampak tipis.
Saat ini, Iran terjepit dalam eskalasi yang merusak hubungan dengan tetangga dan memicu guncangan ekonomi global.
Bagi pasukan yang melawan pengaruh AS dan Israel, Mojtaba adalah harapan terbaik untuk bertahan.
Namun bagi para penentangnya, ia adalah representasi dari sistem yang hari-harinya mungkin sudah mulai terhitung.
Editor: Redaktur TVRINews
