
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. (Photo by Sean Gallup/Getty Images)
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Manila
Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. memutuskan menerapkan sistem kerja empat hari dalam sepekan bagi sejumlah kantor pemerintah Filipina mulai 9 Maret 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah penghematan energi di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Dalam pernyataannya dilansir media Filipina, The Inquirer, Sabtu, 7 Maret 2026, pada Jumat, 6 Maret 2026 Marcos menjelaskan pengaturan kerja tersebut bersifat sementara dan hanya berlaku bagi instansi di cabang eksekutif. Sementara itu, layanan yang bersifat darurat maupun pelayanan publik tetap beroperasi normal.
“Mulai Senin, 9 Maret, pemerintah akan menerapkan sementara sistem kerja empat hari dalam seminggu di beberapa kantor cabang eksekutif. Layanan penting seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan pelayanan langsung kepada masyarakat tetap berjalan seperti biasa,” ujar Marcos dalam pesannya pada hari Jumat, 6 Maret 2026, dilansir media Filipina, The Inquirer, Sabtu, 7 Maret 2026.
Selain pengaturan hari kerja, pemerintah juga meminta seluruh lembaga negara melakukan penghematan penggunaan energi. Setiap instansi diminta menekan konsumsi listrik serta penggunaan bahan bakar antara 10 hingga 20 persen.
Pemerintah Filipina juga membatasi perjalanan dinas serta aktivitas yang dinilai tidak mendesak, termasuk rapat yang masih dapat dilakukan di dalam kantor. Kebijakan tersebut diberlakukan untuk menekan pengeluaran pemerintah selama harga energi global mengalami lonjakan.
Menurut Marcos, kebijakan ini akan tetap berlaku hingga ada keputusan lanjutan dari pemerintah. Setiap lembaga diminta menyusun pedoman internal guna memastikan pengawasan kehadiran pegawai serta kinerja selama penerapan sistem kerja baru tersebut.
Marcos turut memperingatkan bahwa kondisi global berpotensi memicu lonjakan harga energi di dalam negeri. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berisiko mengganggu jalur distribusi minyak dunia, terutama di kawasan Selat Hormuz.
Pemerintah memperkirakan harga BBM di Filipina akan naik signifikan pada pekan depan, dengan harga bensin diproyeksikan meningkat sekitar 7,48 peso per liter, solar naik 17,28 peso, dan minyak tanah hingga 32,35 peso per liter.
“Kita mungkin menjadi korban dari konflik yang bukan pilihan kita. Namun kita tetap memiliki kendali untuk melindungi rakyat Filipina,” kata Marcos.
Editor: Redaksi TVRINews
