
Presiden Amerika Serikat Donald Trump Bicara Tentang Genjatan Senjata Iran di hadapan Negera peserta Board of Peace Kamis 19/2/2026 (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews-Washington DC
AS tingkatkan kekuatan militer di Timur Tengah dengan pengiriman kapal induk kedua saat tenggat diplomasi mendekat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa titik terang mengenai kesepakatan nuklir dengan Iran akan terlihat dalam kurun waktu "10 hari ke depan". Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi kehadiran militer AS yang signifikan di kawasan Timur Tengah.
Dalam pertemuan perdana Board of Peace di Washington DC Kamis 19 Februari 2026, Trump menegaskan posisi kerasnya bahwa Teheran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
Ia memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika Iran terus mengancam stabilitas regional.
"Mungkin kita akan mencapai kesepakatan, namun Anda akan mengetahuinya dalam sekitar 10 hari ke depan," ujar Trump, merujuk pada masa tunggu respons Iran pasca-pertemuan diplomatik di Jenewa Selasa 17 Februari 2026.
Eskalasi Militer di Tengah Diplomasi
Meski jalur komunikasi terbuka melalui utusan Gedung Putih, Steve Witkoff dan Jared Kushner, Pentagon terus memperkuat posisi tempurnya.
Kelompok tempur kapal induk kedua, yang dipimpin oleh USS Gerald R. Ford, dilaporkan tengah menuju Mediterania Timur untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln yang telah bersiaga di Laut Arab.
Matthew Savill, Direktur Ilmu Militer di Royal United Services Institute, menilai pengerahan ini memberikan opsi serangan udara intensitas tinggi bagi Gedung Putih.
"Bersama-sama, kelompok tempur ini mampu menghasilkan ratusan sorties serangan per hari, intensitas yang bahkan lebih besar dibandingkan perang 12 hari Juni lalu," ungkap Savill.
Tuntutan AS dan Posisi Iran
Pihak AS menuntut Iran untuk menghentikan seluruh program pengayaan uranium sebagai syarat pencabutan sanksi.
Iran sendiri telah berjanji akan memberikan jawaban dalam waktu dua minggu, sebuah garis waktu yang sejalan dengan estimasi 10 hari yang dilontarkan Trump.
Namun, bayang-bayang konflik tetap nyata. Pakar militer mencatat adanya pergerakan besar pesawat komando dan kontrol E-3 Sentry AWACS ke pangkalan udara Sultan di Arab Saudi.
Hal ini mengindikasikan kesiapan AS untuk kampanye udara yang luas jika diplomasi menemui jalan buntu.
Respons Teheran dan Ancaman Balasan

Garda Revolusi Iran menunjukkan pasukan yang tengah bersiaga selama latihan militer di Teluk Persia senin 16/2/2026 (Foto: Sepah News)
Di sisi lain, Iran tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur sepenuhnya. Misi permanen Iran untuk PBB telah menyampaikan pesan kepada Sekretaris Jenderal António Guterres bahwa Teheran akan menganggap pangkalan dan aset "pasukan musuh" di kawasan sebagai target sah jika terjadi agresi militer.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bahkan melontarkan retorika tajam dengan mengancam akan mengirim kapal perang AS "ke dasar laut" sebagai bentuk pertahanan diri.
Saat ini, komunitas internasional menanti apakah retorika "10 hari" dari Trump akan berujung pada terobosan diplomatik atau justru menjadi awal dari babak baru konfrontasi bersenjata di Timur Tengah.
Editor: Redaktur TVRINews
