
Ladang gas South Pars di Teluk Persia, dikelola bersama oleh Iran dan Qatar serta merupakan ladang gas alam terbesar di dunia. (Foto: AP News/Vahid Salemi)
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Teheran memperingatkan bakal adanya eskalasi serangan jika fasilitas gas dan minyak mereka kembali menjadi target militer
Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras terkait potensi perluasan konflik di kawasan Teluk. Teheran menyatakan akan menerapkan kebijakan "tanpa pengendalian diri" (zero restraint) jika infrastruktur energi nasional mereka kembali menjadi sasaran serangan udara.
Pernyataan ini muncul menyusul rangkaian serangan yang menghantam ladang gas South Pars, salah satu aset energi vital Iran yang juga terhubung dengan jaringan pasokan regional.
Aksi ini menandai babak baru dalam ketegangan militer yang melibatkan aktor-aktor regional dan kekuatan global di Timur Tengah.
Eskalasi di Jalur Energi Vital
Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa Iran kini telah memasuki fase baru dalam konfrontasi militer.
Menurutnya, setiap kerusakan pada fasilitas pelabuhan atau energi Iran akan dibalas dengan tindakan serupa terhadap infrastruktur gas dan minyak di seluruh kawasan yang berafiliasi dengan kepentingan lawan.
"Jika terjadi serangan sekecil apa pun terhadap infrastruktur energi dan pelabuhan Iran, kami akan membakar infrastruktur minyak dan gas di kawasan yang menguntungkan Amerika Serikat dan sekutunya," ujar Zolfaghari dalam keterangan resmi yang dirilis melalui media pemerintah, Kamis 19 Maret 2026.
Peringatan senada juga disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Melalui pernyataan resminya, Araghchi menyebut bahwa respons yang dilakukan Iran sejauh ini barulah sebagian kecil dari kapabilitas militer yang dimiliki.
"Satu-satunya alasan pengendalian diri kami selama ini adalah demi menghormati permintaan de-eskalasi. Namun, tidak akan ada lagi pengendalian diri jika infrastruktur kami dihantam kembali," tegas Araghchi.
Dampak Ekonomi Global
Ketegangan yang kian meruncing ini segera memicu guncangan pada pasar komoditas internasional.
Harga minyak mentah jenis Brent dilaporkan melonjak melampaui angka 115 USD per barel, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar akan gangguan pasokan jangka panjang di Selat Hormuz.
Selain itu, serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut mulai berdampak pada kapasitas ekspor gas alam cair (LNG).
Beberapa fasilitas pengolahan di negara tetangga dilaporkan mengalami kerusakan teknis akibat limpasan konflik, yang diprediksi membutuhkan waktu pemulihan hingga hitungan tahun.
Hingga berita ini diturunkan, sejumlah pemimpin dunia terus menyerukan penghentian serangan terhadap infrastruktur sipil guna mencegah krisis energi global yang lebih dalam.
Editor: Redaksi TVRINews
