Penulis: Fityan
TVRINews- Teheran, Iran
Teheran ancam respons militer di tengah meluasnya demonstrasi nasional dan laporan jatuhnya ratusan korban jiwa.
Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat untuk tidak melakukan intervensi militer, menyusul pernyataan Presiden Donald Trump yang menyatakan kesiapan Washington untuk mendukung gelombang demonstrasi yang tengah mengguncang negeri tersebut.
Ketegangan diplomatik ini meningkat seiring dengan laporan dari berbagai lembaga pemantau hak asasi manusia yang menyebutkan angka kematian pengunjuk rasa melonjak drastis akibat tindakan tegas aparat keamanan pada hari Minggu 11 Januari 2026 waktu setempat.
Lembaga Human Rights Activists News Agency (HRANA) yang berbasis di AS melaporkan sedikitnya 538 orang tewas dalam kekerasan terkait demonstrasi, termasuk 490 pengunjuk rasa. Data tersebut juga menunjukkan bahwa lebih dari 10.600 orang telah ditahan oleh otoritas Iran.
Sementara itu, lembaga Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 192 korban jiwa hingga hari Minggu.
Perbedaan angka ini mencerminkan sulitnya verifikasi independen di tengah pemutusan akses internet total yang diberlakukan pemerintah Teheran sejak Kamis lalu.
Narasi Pemerintah dan Status Siaga
Otoritas Iran membantah angka tersebut dan belum merilis data resmi versi pemerintah. Sebaliknya, Teheran menetapkan tiga hari masa berkabung nasional bagi para "martir", termasuk anggota pasukan keamanan yang tewas dalam bentrokan.
Kepala Polisi Nasional Iran, Ahmad-Reza Radan, mengonfirmasi melalui televisi negara bahwa sejumlah pemimpin utama kerusuhan telah ditangkap.
"Tadi malam, penangkapan signifikan dilakukan terhadap elemen-elemen utama kerusuhan, yang insya Allah akan dihukum setelah menjalani prosedur hukum," ujar Radan kepada The Gaurdian tanpa merinci jumlah total tahanan.
Kejaksaan Agung Iran sebelumnya memberikan peringatan keras bahwa mereka yang terlibat atau membantu pengunjuk rasa dapat didakwa sebagai "musuh Tuhan" (moharebeh), sebuah tuduhan yang membawa ancaman hukuman mati.
Krisis Komunikasi dan Kesaksian Lapangan
Meski akses internet lumpuh, laporan saksi mata mulai merayap keluar melalui layanan satelit Starlink. Seorang aktivis di kota Sari, melalui Abdorrahman Boroumand Foundation, menggambarkan kondisi kota yang berada di bawah darurat militer.
"Sejumlah besar pasukan keamanan bersenjata militer telah mendirikan pos pemeriksaan. Mereka mengatakan siapa pun yang berada di luar akan ditembak," ungkapnya.
Di Teheran, sebuah video yang diverifikasi oleh kelompok hak asasi manusia Hengaw menunjukkan tumpukan jenazah di sebuah gudang di wilayah Kahrizak, yang diduga digunakan sebagai fasilitas tambahan karena kamar mayat utama telah melampaui kapasitas.
Ketidakstabilan ini terjadi saat Iran berada dalam posisi rentan akibat krisis ekonomi dan dampak pasca-konflik musim panas dengan Israel.
Di Washington, Senator Lindsey Graham menyuarakan dukungan terhadap sikap Trump, menyatakan bahwa "mimpi buruk panjang rakyat Iran akan segera berakhir."
Di sisi lain, pejabat Israel dilaporkan tetap dalam posisi waspada tinggi namun memilih untuk membatasi pernyataan publik. Langkah ini diambil guna menghindari narasi pemerintah Iran yang kerap menuduh gerakan protes domestik sebagai skenario yang ditunggangi kekuatan asing.
Editor: Redaktur TVRINews
