
Petugas darurat berada di lokasi serangan udara Israel di lingkungan Corniche al-Mazraa, Beirut, pada hari Rabu 8 April 2026. (Foto: AFP News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Beirut
Meski AS dan Iran sepakat damai dua minggu, Israel justru luncurkan serangan terbesar ke Lebanon
Eskalasi militer di Timur Tengah mencapai titik kritis baru setelah Israel meluncurkan gelombang serangan udara terbesar ke Lebanon sejak konflik dengan Hizbullah pecah.
Operasi militer yang menyasar lebih dari 100 situs tersebut menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 837 lainnya, sekaligus mengancam stabilitas kesepakatan gencatan senjata yang baru saja dicapai antara Iran dan Amerika Serikat.
Jet tempur Israel meratakan sejumlah bangunan di pusat kota Beirut, menyelimuti langit ibu kota dengan asap pekat.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyebut operasi ini sebagai "serangan kejutan" yang bertujuan untuk mengubah realitas keamanan di perbatasan utara.
"Kami telah memperingatkan Naim Qassem bahwa Hizbullah akan membayar harga yang sangat mahal karena menyerang Israel atas nama Iran," ujar Katz dalam pernyataan resminya yang dikutip The Guardian kamis 9 April 2026 . Ia juga menambahkan bahwa giliran pemimpin Hizbullah tersebut akan segera tiba.
Ketidakpastian Diplomatik
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, mengumumkan adanya kesepakatan gencatan senjata menyeluruh yang mencakup seluruh wilayah konflik.
Namun, kantor Perdana Menteri Israel segera memberikan klarifikasi bahwa kesepakatan dua minggu tersebut tidak mencakup Lebanon.
Sikap ini didukung oleh pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang menyebut situasi di Lebanon sebagai "bentrokan terpisah" dan bukan bagian dari kesepakatan utama dengan Iran.
"Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keberadaan Hizbullah," ungkap Trump saat dikonfirmasi mengenai posisi Washington terhadap aksi pemboman tersebut.
Dampak Kemanusiaan dan Reaksi Global
Berdasarkan laporan AFP, Di lapangan, kondisi Beirut berubah menjadi zona bencana. Rumah sakit mengeluarkan seruan darurat untuk donor darah, sementara Kementerian Kesehatan Lebanon mendesak warga mengosongkan jalan raya guna memberi akses bagi ambulans.
"Saya memiliki teman di gedung ini Mahmoud. Dia tidak menjawab teleponnya. Kita harus menghentikan perang ini, ini sudah tidak masuk akal," ujar Shaden Fakih (24), seorang pelatih kalistenik yang menyaksikan runtuhnya gedung di lingkungan Barbour, Beirut pusat.
Kecaman internasional pun mengalir deras. Komisaris Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyebut skala serangan ini sebagai sesuatu yang "mengerikan."
"Pertumpahan darah seperti ini, hanya beberapa jam setelah menyetujui gencatan senjata dengan Iran, sungguh sulit dipercaya. Hal ini memberikan tekanan besar pada perdamaian yang rapuh," tegas Türk.
Konsekuensi Geopolitik
Iran, melalui kantor berita Tasnim, menyatakan kesiapannya untuk menarik diri dari perjanjian gencatan senjata jika Israel terus melanggar gencatan senjata di Lebanon. Krisis ini kini menjadi fokus pembahasan intensif antara Menteri Luar Negeri Iran dan Pakistan.
Secara domestik, kebijakan ini menuai kritik tajam di Israel. Pemimpin oposisi Yair Lapid menyebut situasi ini sebagai "bencana politik" terbesar dalam sejarah negara tersebut, mengingat Israel dianggap tidak dilibatkan secara maksimal dalam meja perundingan yang dimediasi oleh Pakistan.
Hingga laporan ini diturunkan, lebih dari 1,1 juta warga Lebanon telah mengungsi, sementara total korban jiwa sejak awal Maret telah melampaui 1.500 orang.
Di tengah puing-puing Beirut, harapan akan perdamaian kini bergantung pada seberapa kuat tekanan diplomatik global mampu meredam mesin perang di kedua belah pihak.
Editor: Redaktur TVRINews
