
Amerika Serikat menarik personel AU dari pangkalan udara al-Udeid di Qatar Rabu 14 Januari 2026. (Foto: The Guardian/ Alamy)
Penulis: Fityan
TVRINews - Washington
Negara Teluk dan Turki Peringatkan Risiko Konflik Regional Besar-Besaran
Sejumlah sekutu utama Amerika Serikat di Timur Tengah dan Turki dilaporkan melakukan upaya diplomasi intensif guna membujuk Presiden Donald Trump agar membatalkan rencana serangan udara terhadap Iran, dan di engah kekhawatiran bahwa aksi militer Washington dapat memicu konflik terbuka yang tidak terkendali di seluruh kawasan.
Arab Saudi, Qatar, Turki, dan Oman menyampaikan peringatan keras bahwa serangan langsung akan menciptakan kekacauan regional.
Diplomasi menit-menit terakhir ini diyakini menjadi faktor kunci yang meyakinkan Trump pada Rabu malam untuk menunda operasi militer tersebut.
Laporan menyebutkan bahwa Arab Saudi bahkan mengambil langkah tegas dengan menolak penggunaan wilayah udaranya bagi militer AS untuk melancarkan serangan apa pun terhadap Teheran.
Diplomasi Intensif di Tengah Ketegangan
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, terus menjalin komunikasi aktif dengan para sejawatnya dari Iran, Oman, dan Turki guna meredakan situasi.
Meskipun Iran tetap terisolasi secara politik dari beberapa negara Teluk terutama karena dukungannya terhadap jaringan proksi "Poros Perlawanan" dan perselisihan wilayah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah melakukan serangkaian kunjungan diplomatik yang signifikan.
Upaya Araghchi, termasuk kunjungan bersejarah ke Bahrain dan Kairo, dipandang telah memperbaiki hubungan bilateral yang sempat terputus sejak 2016.
Pihak Teheran berupaya meyakinkan negara-negara tetangganya bahwa stabilitas kawasan lebih terancam oleh tindakan militer dibandingkan keberadaan pengaruh Iran di Teluk.
Kerapuhan Basis Militer AS
Ketegangan mencapai puncaknya ketika AS mulai menarik personel kunci dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar menyusul ancaman terbuka Teheran untuk membalas setiap pangkalan Amerika di kawasan tersebut. Langkah evakuasi ini menggarisbawahi kerentanan aset militer darat dan laut AS yang selama ini menjadi simbol kekuatan di Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed al-Ansari, menekankan pentingnya solusi diplomatik dalam menghadapi krisis ini.
"Tantangan besar di kawasan ini baik tantangan internal maupun eksternal menuntut kita semua untuk kembali ke meja perundingan," ujar Al-Ansari kepada wartawan.
Senada dengan Qatar, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyerukan dialog langsung demi mencegah eskalasi lebih lanjut.
"Kami berharap Amerika Serikat dan Iran akan menyelesaikan masalah ini di antara mereka—baik melalui mediator, aktor lain, maupun dialog langsung. Kami memantau perkembangan ini dengan sangat cermat," tegas Fidan.
Situasi saat ini menunjukkan pergeseran geopolitik di mana para sekutu tradisional AS kini lebih memprioritaskan stabilitas regional dan kedaulatan wilayah udara mereka daripada mendukung konfrontasi militer langsung yang berisiko menghancurkan tatanan ekonomi dan keamanan di Timur Tengah.
Editor: Redaksi TVRINews
