TVRINews, Singapura
Forum Media Asia-Pasifik Bahas Peluang dan Tantangan Spektrum 5G dalam Ekosistem Penyiaran Modern.
Transformasi digital global tengah mendorong pergeseran masif pada industri penyiaran, seiring dengan munculnya teknologi 5G Broadcast sebagai salah satu pilar utama distribusi konten masa depan.
Strategis serta kesiapan infrastruktur kawasan dalam mengadopsi teknologi ini menjadi sorotan utama dalam forum penyiaran internasional yang diselenggarakan oleh Asia-Pacific Broadcasting Union (ABU) di Singapura baru-baru ini.
Dalam diskusi panel yang dipandu oleh Peh Beng Yeow dari Mediacorp, para pemimpin industri telekomunikasi dan penyiaran regional memetakan peta jalan penerapan 5G Broadcast.
Salah satu poin krusial yang mengemuka adalah bagaimana teknologi ini dapat melengkapi arsitektur penyiaran konvensional di tengah dinamika konsumsi media digital saat ini.
Tantangan Spektrum dan Potensi Geografis
Direktur Teknik TVRI, Bernardus Satriyo Dharmanto, yang hadir sebagai salah satu panelis, menggarisbawahi kompleksitas implementasi teknologi baru ini di Indonesia. Menurutnya, alokasi frekuensi menjadi batasan utama saat ini karena sebagian besar spektrum perkotaan telah padat digunakan untuk siaran televisi digital komersial.
"Strategi pengelolaan dan harmonisasi spektrum yang matang mutlak diperlukan, mengingat ruang frekuensi di wilayah urban saat ini didominasi oleh layanan DVB-T2 Free-To-Air (FTA)," ujar Bernardus Satriyo Dharmanto dalam paparan resminya di forum tersebut.
Meski menghadapi kendala regulasi spektrum, Bernardus menambahkan bahwa karakteristik arsitektur kepulauan Indonesia justru menjadikan 5G Broadcast sebagai solusi yang sangat relevan.
Ketahanan infrastruktur komunikasi ini dinilai andal dalam situasi darurat atau bencana alam (disaster resilient). Kemampuannya memancarkan sinyal langsung ke perangkat seluler tanpa bergantung pada jaringan internet seluler konvensional dinilai efektif untuk penguatan sistem peringatan dini dan pemerataan informasi di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T).
Efisiensi Distribusi Massal Melalui Sistem Hybrid
Pandangan serupa mengenai evolusi distribusi media juga disuarakan oleh para praktisi internasional lainnya, termasuk Aale Raza dari Whiteways Systems, Tham Wai Hoong dari Astrum Mobile, serta perwakilan Radio Televisyen Malaysia (RTM), Ir. Ts. Ahmad Shafiq Mirza Bin Mansor.
Forum tersebut menyimpulkan bahwa keunggulan komparatif 5G Broadcast terletak pada metode transmisi one-to-many.
Berbeda dengan layanan streaming berbasis internet searah (unicast) yang membebani kapasitas jaringan karena membutuhkan satu jalur koneksi untuk setiap pengguna, sistem ini memancarkan satu sinyal tunggal yang dapat diakses oleh jutaan gawai secara simultan.
Formasi ini menjamin stabilitas siaran langsung berskala besar, seperti ajang olahraga global, sekaligus menghemat penggunaan pita lebar (bandwidth).
Konvergensi masa depan industri media diperkirakan akan mengarah pada ekosistem penyiaran hibrida. Integrasi multiplatform yang menggabungkan DVB-T2, layanan Over-The-Top (OTT), teknologi satelit, komputasi awan, dan jaringan 5G akan menjadi standar baru interkoneksi media publik.
Bagi kawasan Asia-Pasifik, adopsi teknologi ini bukan lagi sekadar pembaruan utilitas telekomunikasi, melainkan bagian dari visi kedaulatan informasi digital nasional.
Keberhasilan implementasi di masa mendatang akan sangat bergantung pada sinergi regulasi dan kolaborasi lintas sektor antara penyedia teknologi, operator seluler, serta lembaga penyiaran global.









