
File Al Jazeera
Penulis: Fityan
TVRINews – Hanoi
Presiden Tiongkok Xi Jinping mengirimkan pesan tegas jelang kunjungan pentingnya ke Asia Tenggara: perang dagang dan tarif tidak membawa manfaat bagi siapa pun.
Dalam artikel opini yang ditulis Xi di surat kabar resmi Vietnam, Nhan Dan, ia menyatakan bahwa negara-negara seharusnya bersama-sama mendorong globalisasi ekonomi yang inklusif dan menyeluruh. Pesan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
"Perang dagang dan perang tarif tidak menghasilkan pemenang, dan proteksionisme bukanlah solusi," tulis Xi.
"Kita perlu melindungi sistem perdagangan multilateral, menjaga kestabilan rantai pasok dan produksi global, serta memelihara lingkungan internasional yang terbuka dan kooperatif."
Xi menekankan bahwa di tengah meningkatnya unilateralisme dan proteksionisme global, ekonomi Tiongkok tetap menjadi penggerak utama perekonomian dunia.
"Tiongkok akan terus membuka diri secara tingkat tinggi, menciptakan lebih banyak peluang bagi dunia, dan berkontribusi pada pembangunan bersama melalui pembangunan berkualitas tinggi," tambahnya.
Kunjungan Xi ke Vietnam yang dimulai Senin ini merupakan bagian dari tur lima harinya ke Asia Tenggara, yang juga mencakup Malaysia dan Kamboja.
Tur ini dilakukan saat Beijing berusaha menegaskan dirinya sebagai mitra dagang yang stabil dan dapat dipercaya di kawasan, di tengah ketidakpastian akibat kebijakan tarif Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.
Trump sebelumnya menerapkan tarif dasar sebesar 10 persen pada puluhan negara, sebagian besar di Asia, serta tarif tambahan sebesar 25 persen untuk kendaraan, baja, dan aluminium. Ia bahkan berencana untuk memperkenalkan tarif baru pada sektor semikonduktor minggu ini.
Meski Trump memberikan jeda 90 hari untuk beberapa negara mitra dagang, Tiongkok tidak termasuk dalam pengecualian itu. Ekspor Tiongkok justru dikenai tarif hingga 145 persen.
Fakta penting lainnya, Tiongkok adalah mitra dagang terbesar bagi negara-negara anggota ASEAN, termasuk Vietnam, Malaysia, dan Kamboja secara individual. Data dari Bea Cukai Vietnam menunjukkan bahwa impor dari Tiongkok ke negara itu melonjak lebih dari 30 persen menjadi US$144 miliar pada 2024.
Setelah mengunjungi Vietnam, Xi dijadwalkan bertolak ke Malaysia Selasa (15/4) dan akan menutup perjalanannya di Kamboja.
Baca Juga: Xi Jinping: 75 tahun hubungan China- Indonesia berpengaruh secara global
Editor: Redaktur TVRINews
