
Menlu Sugiono: ASEAN Harus Bersatu Hadapi Krisis Myanmar
Penulis: Nisa Alfiani
TVRINews, Jakarta
Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai motor penggerak perdamaian kawasan dalam menyikapi krisis politik dan kemanusiaan di Myanmar.
Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, dalam forum Extended Informal Consultation on the Implementation of the Five-Point Consensus (5PC) yang digelar di sela-sela KTT ke-46 ASEAN, Jumat (24/5/2025), di Kuala Lumpur, Malaysia.
“Indonesia menyerukan pentingnya solidaritas dan kesatuan ASEAN dalam menghadapi krisis Myanmar. Kami percaya, penyelesaian damai hanya mungkin tercapai jika ASEAN berbicara dalam satu suara dan bertindak dengan komitmen kolektif,” ujar Menlu Sugiono dalam keterangannya yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Minggu (25/5/2025).
Sugiono menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten mendorong implementasi penuh Five-Point Consensus (5PC), yang disepakati oleh para pemimpin ASEAN pada 2021. Konsensus tersebut meliputi penghentian kekerasan, dialog inklusif, serta percepatan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil yang terdampak konflik di Myanmar.
“Sudah waktunya ASEAN beranjak dari sekadar imbauan. Konsensus lima poin harus dijalankan secara konkret dan menyeluruh. ASEAN tidak boleh diam saat rakyat Myanmar menderita,” tegas Sugiono.
Dalam forum yang mempertemukan para Menteri Luar Negeri ASEAN serta para utusan khusus untuk Myanmar tersebut, Indonesia juga menyampaikan dukungan penuh atas langkah-langkah yang diambil Malaysia sebagai Ketua ASEAN 2025.
“Kami mendukung penuh upaya Malaysia dalam memfasilitasi penyelesaian krisis Myanmar, dan Indonesia siap terus berkontribusi dalam menjaga stabilitas dan pemulihan demokrasi di kawasan,” tambahnya.
Pertemuan konsultatif ini bertujuan untuk mengevaluasi progres implementasi 5PC sekaligus mendorong langkah-langkah baru yang lebih efektif dalam merespons krisis berkepanjangan di Myanmar. Indonesia menegaskan bahwa penyelesaian damai harus tetap menjadi prioritas utama ASEAN.
Baca Juga: Arsjad: Kerja Sama RI-China Bukan Hanya Soal Investasi Tapi Transfer Teknologi
Editor: Redaksi TVRINews
