
Tentara Israel bersiaga saat melakukan penggerebekan di Hebron, wilayah pendudukan Tepi Barat, 19 Januari 2026. [Foto: Al Jazeera/Mussa Qawasma]
Penulis: Fityan
TVRINews-Hebron
Ratusan tentara dikerahkan untuk menutup akses kota dan menyita persenjataan di wilayah selatan Tepi Barat.
Militer Israel meluncurkan operasi militer berskala besar di Hebron, wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, pada Senin 19 Januari 2026. Langkah ini melibatkan ratusan personel militer serta kendaraan lapis baja berat yang menyebabkan lumpuhnya aktivitas di distrik-distrik selatan kota tersebut.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis oleh militer Israel dan badan keamanan internal Shin Bet, pihak berwenang mengonfirmasi bahwa ofensif ini bertujuan untuk "menggagalkan infrastruktur teror" dan menyita persenjataan di area Jebel Johar.
Penerapan Kunci Akses Total
Kondisi di lapangan menunjukkan adanya pembatasan ruang gerak yang sangat ketat. Koresponden Al Jazeera, Montaser Nassar, melaporkan bahwa wilayah selatan Hebron telah berada di bawah pemberlakuan jam malam sejak fajar.
“Terdapat pengerahan pasukan pendudukan yang intensif, termasuk penggunaan buldoser dan kendaraan lapis baja berat,” lapor Nassar.
Ia menambahkan bahwa penggunaan kendaraan lapis baja tersebut mengingatkan pada taktik masa lalu. “Terakhir kali kami melihat alat berat seperti ini di Hebron adalah saat Intifada kedua selama Operasi Defensive Shield.”
Selain melakukan penggeledahan, pasukan di lapangan terpantau memasang barikade besi baru. Langkah ini dikhawatirkan menjadi upaya permanen untuk memperketat kontrol wilayah.
“Mereka membawa gerbang besi beberapa waktu lalu, dan ini adalah bagian yang mengkhawatirkan. Tampaknya apa yang terjadi di lapangan adalah awal dari upaya membagi wilayah yang memang sudah terbagi,” ujar Nassar dalam laporannya.
Tekanan di Area Ibrahimi Mosque
Operasi ini berlangsung sangat dekat dengan situs suci Masjid Ibrahimi. Berdasarkan laporan kantor berita Palestina, Wafa, setidaknya tujuh orang telah ditahan dalam operasi ini.
Pihak keamanan juga terpantau menutup bundaran Tariq bin Ziyad menggunakan blok semen dan gundukan tanah.
Nassar menyoroti bahwa penggerebekan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan administratif terhadap situs-situs religi. "Ini terjadi setelah adanya keputusan untuk melarang direktur Masjid Ibrahimi (memasuki lokasi) selama 15 hari," jelasnya, merujuk pada pengalihan manajemen situs tersebut ke Administrasi Sipil Israel.
Konteks Eskalasi Regional
Ketegangan di Tepi Barat terus meningkat secara signifikan sejak pecahnya konflik di Jalur Gaza pada Oktober 2023.
Berdasarkan data dari sumber resmi Palestina, periode ini telah mencatat lebih dari 1.080 warga Palestina tewas di Tepi Barat, sekitar 11.000 luka-luka, dan lebih dari 20.500 orang ditahan dalam berbagai operasi keamanan.
Editor: Redaktur TVRINews
