
Tank tank Tentara Israel Masih Terlihat di sebagian besar wilayah Lebanon Selatan (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews, Tel Aviv
Ketegangan Meningkat Pasca Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon Selatan
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menginstruksikan militer Israel (IDF) untuk melakukan serangan intensif terhadap sasaran-sasaran Hizbullah di Lebanon.
Perintah ini muncul hanya berselang dua hari setelah kesepakatan gencatan senjata diperpanjang selama tiga minggu, menandakan rapuhnya stabilitas di wilayah perbatasan tersebut.
Eskalasi terbaru ini dipicu oleh rangkaian kontak senjata yang kembali memanas. Pada Sabtu 25 April 2926 waktu setempat, serangan udara Israel menyasar sebuah truk dan sepeda motor di kota Yohmor al-Shaqeef, Distrik Nabatieh.
Mengutip laporan Agence France-Presse (AFP) dari Kementerian Kesehatan Lebanon, insiden tersebut menewaskan empat orang.
Selain itu, serangan di Safad al-Battikh, Distrik Bint Jbeil, dilaporkan merenggut dua nyawa dan melukai 17 orang lainnya.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa operasi tersebut merupakan tindakan preventif.
"Militer telah mengeliminasi tiga anggota Hizbullah yang mengendarai kendaraan bermuatan senjata, serta satu anggota lainnya yang menggunakan sepeda motor," tulis pernyataan resmi IDF.
Lebih lanjut, IDF menegaskan bahwa dua anggota bersenjata lainnya tewas di area Sungai Litani karena dianggap menebar ancaman langsung terhadap tentara Israel yang beroperasi di zona penyangga.
Di sisi lain, pihak Hizbullah memberikan respons balasan dengan menargetkan kendaraan militer Israel di Lebanon Selatan.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangkaian serangan udara beruntun terjadi di Distrik Bint Jbeil, Tyre, dan Nabatieh sesaat setelah instruksi Netanyahu keluar.
Sorotan Terhadap Keamanan Jurnalis
Ketegangan ini juga memicu kecaman internasional terkait keselamatan pekerja media. Koalisi Kebebasan Media (MFC), yang mencakup Inggris dan Finlandia, mengeluarkan pernyataan keras menyusul tewasnya jurnalis surat kabar Lebanon, Amal Khalil, dan cederanya fotografer lepas Zeinab Faraj dalam serangan sebelumnya.
"Inggris dan Finlandia mengecam keras segala bentuk kekerasan yang ditujukan kepada jurnalis dan pekerja media. Semua pihak harus mengizinkan pers bekerja dengan bebas dan aman," ungkap pernyataan resmi MFC.
Pejabat Lebanon menuduh militer Israel sengaja menargetkan jurnalis yang sedang berlindung.
Namun, IDF membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa operasional mereka hanya menyasar infrastruktur teroris sesuai dengan arahan eselon politik.
Hingga saat ini, Israel masih menduduki sebagian besar wilayah Lebanon Selatan dan terus melakukan pembongkaran bangunan dalam skala besar, yang semakin menambah kompleksitas krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews
