
Kapal Tengker Milik Thailand uang terkenal serangan Rudal Israel - AS (Foto: The Guardian)
Penulis: Fityan
TVRINews - London, Inggris
Serangan Iran terhadap infrastruktur ekonomi Timur Tengah memicu kekhawatiran krisis pasokan global.
Gejolak geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global.
Harga minyak mentah dunia melonjak melampaui angka $100 per barel pada perdagangan Kamis 12 Maret 2026 dipicu oleh serangkaian serangan Iran terhadap titik-titik ekonomi strategis di kawasan tersebut.
Eskalasi militer ini melampaui upaya internasional dalam menstabilkan pasar, termasuk keputusan darurat untuk melepaskan cadangan minyak mentah dalam skala besar.
Berdasarkan data pasar, minyak mentah jenis Brent sempat melesat 9% ke level $100,29 per barel, sebelum sedikit terkoreksi ke posisi $98.
Gangguan Jalur Perdagangan Global
Ketegangan meningkat seiring langkah Teheran yang menargetkan fasilitas energi dan jalur maritim. Beberapa kapal dagang dilaporkan terkena serangan di sekitar Selat Hormuz, jalur arteri paling vital bagi perdagangan minyak dunia.
Salah satu kapal yang menjadi korban adalah Mayuree Naree berbendera Thailand, di mana tiga awak kapal dikabarkan masih terjebak di dalam pencarian.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan bahwa konflik ini dapat memangkas produksi minyak dan gas di kawasan tersebut hingga 10 juta barel per hari.
Dalam laporannya, IEA menyebutkan bahwa penutupan fasilitas produksi mulai dilakukan seiring terhentinya ekspor melalui Selat Hormuz.
Respons Internasional dan Tekanan Pasar
Meski IEA telah menginstruksikan pelepasan 400 juta barel cadangan darurat dari 32 negara anggota rekor terbesar dalam sejarah.
Langkah tersebut belum mampu meredam kekhawatiran pasar akan krisis pasokan yang berkepanjangan.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengonfirmasi bahwa AS akan melepas 172 juta barel dari cadangan strategisnya mulai pekan depan.
Wright menuduh pihak Iran telah melakukan tindakan yang mengancam ketahanan energi global.
"Iran telah memanipulasi dan mengancam keamanan energi Amerika serta sekutunya," ujar Wright dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, komando militer Iran memberikan peringatan keras kepada pihak Barat terkait dampak ekonomi dari ketidakstabilan ini.
"Bersiaplah untuk harga minyak mencapai $200 per barel, karena harga minyak bergantung pada keamanan regional yang telah Anda destabilisasi," tegas juru bicara militer Iran.
Dampak Ekonomi Luas
Lonjakan harga energi ini diperkirakan akan menekan pertumbuhan ekonomi global dan memicu risiko stagflasi.
Tidak hanya minyak, harga gas alam di Eropa juga mencatatkan kenaikan sebesar 7,7%.
Di pasar ekuitas, indeks Nikkei 225 Jepang dan Kospi Korea Selatan ditutup melemah, mencerminkan kecemasan investor terhadap gangguan rantai pasok global.
Raksasa minyak Saudi Aramco turut memperingatkan adanya "konsekuensi katastrofik" bagi pasar dunia jika blokade di Selat Hormuz terus berlanjut tanpa solusi diplomatik yang konkret.
Editor: Redaksi TVRINews
