
Sebuah bangunan hancur akibat serangan udara Israel di kota pelabuhan selatan Tyre, Lebanon. [Foto: Mohammed Zaatari/AP News]
Penulis: Fityan
TVRINews – Tyre, Lebanon
Antara Ancaman Kemiskinan dan Taruhan Nyawa di Tengah Pengepungan
Bagi penduduk Lebanon Selatan, pilihan hidup kini hanya tersisa dua: bertahan di rumah dengan risiko kematian, atau melarikan diri menuju ketidakpastian ekonomi yang menghancurkan.
Pilihan mustahil ini membayangi jutaan nyawa di tengah eskalasi konflik yang kian mencekam.
Pada awal Maret lalu, kepanikan massal pecah di Tyre ketika peringatan evakuasi paksa dikeluarkan.
Em Saeid, seorang warga lokal, mengenang momen mencekam saat suara tembakan peringatan ke udara memecah kesunyian, memaksa warga berhamburan keluar dalam kondisi tidak siap.
"Beberapa wanita keluar rumah tanpa penutup kepala, yang lain bahkan belum berpakaian lengkap. Para lansia berjalan kaki dengan sisa tenaga mereka," ungkap Em Saeid dalam sebuah laporan yang dilansir oleh Al Jazeera.
Trauma Pengungsian vs Bahaya Bombardir
Ketegangan meningkat drastis setelah 15 bulan gesekan di perbatasan mencapai titik didih.
Perang yang melibatkan kekuatan regional ini telah memaksa sekitar 1,2 juta orang atau lebih dari 20 persen populasi Lebanon meninggalkan tanah kelahiran mereka.
Human Rights Watch secara tegas menyebut pemindahan paksa warga sipil ini sebagai "potensi kejahatan perang".
Para ahli hukum internasional menekankan bahwa status peperangan tidak memberikan izin bagi pihak manapun untuk mengusir penduduk dari tanah mereka secara sewenang-wenang.

(Serangan Israel di dekat Rumah Sakit Hiram di Tyre meluluhlantakkan bangunan menjadi puing-puing (Foto: Al Jazeera))
Bagi sebagian warga, seperti Aya, seorang lulusan universitas di Tyre, bertahan di bawah gempuran terasa lebih bermartabat dibandingkan harus menghadapi eksploitasi di pengungsian.
"Bertahan di bawah pemboman terkadang terasa lebih mudah diatasi daripada trauma pengungsian itu sendiri," tulis Aya dalam pesan singkatnya.
Ia merefleksikan pengalaman pahit sebelumnya, di mana para pengungsi sering kali diperas oleh pemilik properti dengan harga sewa yang tidak masuk akal atau diperlakukan tanpa rasa hormat.
Ikatan Emosional dengan Tanah Selatan
Ketakutan akan kehilangan akses permanen ke wilayah selatan menjadi alasan utama banyak warga enggan beranjak.
Sejarah panjang pendudukan dan invasi telah membentuk ikatan emosional yang kuat antara penduduk dengan tanah mereka.
"Alasan paling krusial adalah rasa takut bahwa orang-orang akan terdampar di luar wilayah selatan dalam waktu lama, bahkan setelah perang berakhir," tambah Aya.
Namun, harga dari sebuah keputusan untuk bertahan sangatlah mahal. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa populasi yang mengungsi mengalami tingkat "kemiskinan multidimensi" yang jauh lebih tinggi.
Mereka terjepit di antara kebutuhan akan keselamatan dan ketiadaan biaya untuk menyewa tempat tinggal yang layak.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski kesepakatan penghentian permusuhan sempat diumumkan pada pertengahan April tepatnya 16 April 2026, kenyataan di lapangan tetap berdarah.
Hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata resmi berlaku, gelombang serangan udara menghantam lingkungan padat penduduk di Beirut dan Tyre hingga saat ini Senin 20 April 2026
Kepada Al Jazeera Yasser, suami Em Saeid, menggambarkan pemandangan mengerikan sesaat setelah kembali ke rumahnya. Melalui pesan suara yang bergetar, ia melaporkan terjadinya "pembantaian di Tyre" pada menit-menit terakhir sebelum gencatan senjata.
"Mereka menghancurkan gedung-gedung; mereka menghancurkan lingkungan di sekitar kami. Semuanya hancur," ujar Yasser sambil menunjuk ke arah reruntuhan bangunan yang hanya berjarak seratus meter dari balkon rumahnya.
Hingga saat ini, konflik tersebut telah merenggut hampir 2.300 nyawa di Lebanon. Di tengah puing-puing bangunan dan suara dengung drone yang masih terdengar, warga Lebanon kini hanya bisa menunggu, apakah perdamaian ini benar-benar akan menetap atau sekadar jeda sebelum tragedi berikutnya bermula.
Editor: Redaksi TVRINews
