TVRINews, Washington DC
Aparat bersenjata lengkap dan Garda Nasional perketat penjagaan ring satu setelah insiden baku tembak.
Personel Secret Service menembak mati seorang pria bersenjata yang melepaskan tembakan di pos pemeriksaan keamanan dekat Gedung Putih pada Sabtu 23 Mei 2026 malam waktu setempat. Insiden ini memicu respons keamanan tingkat tinggi dan memaksa kompleks kepresidenan tersebut menerapkan status penguncian wilayah (lockdown).
Peristiwa yang terjadi tak lama setelah pukul 18.00 tersebut bermula ketika pelaku mendekati pos penjagaan di persimpangan 17th Street dan Pennsylvania Avenue. Berdasarkan keterangan resmi dari Secret Service lembaga federal yang bertanggung jawab atas keselamatan presiden pria tersebut menyembunyikan senjata di dalam tas sebelum akhirnya melepaskannya ke arah petugas.
Aparat yang berjaga segera membalas tembakan dan melumpuhkan pelaku. Tersangka sempat dilarikan ke Rumah Sakit George Washington sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Seorang warga sipil yang berada di sekitar lokasi turut terluka akibat terkena peluru. Kendati demikian, pihak berwenang menyatakan masih menyelidiki apakah korban tersebut terkena tembakan awal dari pelaku atau akibat peluru nyasar dalam baku tembak yang terjadi.
Situasi di Dalam Kompleks Gedung Putih
Saat insiden berlangsung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berada di dalam Gedung Putih dan dipastikan tidak mengalami cedera. Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, berusaha meredakan kepanikan publik melalui pernyataan di media sosial X.
"Presiden tetap bekerja pada pukul 20.00. Tidak ada yang bisa menghentikan kami," tulis Cheung.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera yang melaporkan langsung dari lapangan, Kimberly Halkett, mengungkapkan bahwa situasi di sekitar lokasi sempat mencekam dengan terdengarnya puluhan suara letusan senjata.
"Lebih dari 30 tembakan terdengar dari arah Halaman Utara Gedung Putih," ujar Halkett dalam laporannya.
Ia menambahkan bahwa para jurnalis yang berada di area luar langsung diinstruksikan untuk berlari menyelamatkan diri ke dalam ruang konferensi pers.
Halkett juga membeberkan informasi awal terkait pelaku. Berdasarkan pemantauannya, tersangka sebenarnya baru saja dijatuhi perintah pengadilan untuk menjauh dari kawasan tersebut (stay-away order). Namun, larangan tersebut diabaikan sebelum akhirnya ia melepaskan tembakan ke arah petugas.
Respons Otoritas Keamanan dan Kongres
Pasca-insiden, kepolisian langsung menutup akses ke wilayah sekitar, disusul oleh pengerahan pasukan Garda Nasional untuk membarikade area agar tidak didekati oleh awak media. Direktur FBI, Kash Patel, mengonfirmasi bahwa institusinya telah berada di tempat kejadian perkara (TKP) untuk memberikan dukungan penuh terhadap proses investigasi yang dipimpin oleh Secret Service.
"Kami akan terus memperbarui informasi kepada publik segera setelah perkembangannya tersedia," ungkap Patel via media sosial.
Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Markwayne Mullin, menyatakan bahwa dirinya terus memantau situasi secara berkala.
"Penembakan malam ini menjadi pengingat nyata akan bahaya yang dihadapi oleh aparat penegak hukum kita setiap harinya," kata Mullin melalui pernyataan resminya.
Dukungan dan kekhawatiran juga mengalir dari jajaran legislatif. Anggota fraksi Republik di DPR AS mengonfirmasi keselamatan Trump, sementara Pemimpin Mayoritas DPR, Steve Scalise, turut menyampaikan simpatinya atas situasi yang berkembang. "Kita hidup di masa yang penuh dengan bahaya," tulis Scalise.
Tantangan Keamanan yang Meningkat
Peristiwa berdarah ini menambah panjang daftar ancaman keamanan terhadap presiden, mengingat insiden ini terjadi kurang dari sebulan setelah dugaan percobaan pembunuhan terhadap Trump pada 25 April lalu.
Kala itu, seorang tersangka bersenjata berhasil diringkus di sebuah hotel di Washington yang menjadi lokasi acara tahunan White House Correspondents' Association Dinner.
"Insiden-insiden seperti ini terjadi dengan frekuensi yang semakin meningkat," tutur Halkett, merefleksikan kecemasan publik atas efektivitas proteksi keamanan ring satu.
Hingga berita ini diturunkan, Secret Service menegaskan bahwa proses penyelidikan masih berjalan dinamis. Identitas resmi pelaku maupun motif di balik serangan tersebut masih dirahasiakan dan belum dirilis kepada publik.










