
Tim Palang Merah membantu pencarian Hamas untuk jenazah tawanan terakhir di Gaza.(Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Yerusalem
Netanyahu: Fase Damai Gaza Kedua Kian Dekat, Isu Inti Belum Tuntas
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengindikasikan bahwa fase kedua dari rencana perdamaian Gaza yang ditengahi oleh Amerika Serikat (AS) sudah di ambang pintu, meskipun beberapa isu kunci masih memerlukan penyelesaian.
Di bawah tahap kedua dari rencana yang digagas oleh Presiden Donald Trump, pasukan Israel diharapkan mundur lebih jauh dari Jalur Gaza. Selain itu, otoritas transisi akan dibentuk, dan pasukan keamanan internasional akan dikerahkan. Bagian integral dari rencana ini adalah pelucutan senjata Hamas dan dimulainya proses rekonstruksi.
Isu Pelucutan Senjata Hamas dan Sinyal Positif
Isu pelucutan senjata Hamas telah lama menjadi hambatan utama. Namun, dalam perkembangan signifikan, seorang pejabat senior Hamas mengisyaratkan kelompok tersebut siap mempertimbangkan untuk "membekukan atau menyimpan" sisa persenjataan mereka.
AS dan mediator internasional lainnya secara aktif memberikan tekanan pada kedua belah pihak untuk melangkah maju ke tahap rencana berikutnya kutip AP News.
Bassem Naim, seorang pejabat tinggi Hamas dan anggota biro politik kelompok tersebut, menyatakan kesiapan Hamas untuk berdialog mengenai pendekatan komprehensif guna "menghindari eskalasi lebih lanjut atau untuk menghindari bentrokan atau ledakan lebih lanjut". Hal ini disampaikannya dalam wawancara di Qatar kepada Associated Press.
"Kami terbuka untuk memiliki pendekatan komprehensif guna menghindari eskalasi lebih lanjut atau untuk menghindari bentrokan atau ledakan lebih lanjut," kata Naim, yang menjadi sinyal positif dalam menyelesaikan salah satu isu paling menantang.
Sebelumnya, Hamas selalu menolak melepaskan senjatanya tanpa pembentukan negara Palestina merdeka.
Jaminan Israel dan Keraguan Pasukan Multinasional
Berbicara kepada para jurnalis termasuk AP News pada hari Minggu 7 Desember 2025, PM Netanyahu menekankan bahwa pemerintahan Hamas di Gaza harus diakhiri, dan kelompok bersenjata itu harus memenuhi "komitmen mereka" untuk menyerahkan senjata dan mendemiliterisasi Jalur Gaza.
Setelah pertemuannya dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz di Yerusalem pada hari Minggu, Netanyahu kembali menegaskan pentingnya demiliterisasi Gaza. Namun, ia menyuarakan skeptisisme mengenai kemampuan pasukan multinasional yang direncanakan untuk melucuti senjata Hamas secara efektif.
"Sekarang ada pertanyaan di sini: teman-teman kita di Amerika ingin mencoba membentuk kekuatan internasional yang akan melakukan pekerjaan itu. Saya katakan - silakan. Apakah ada sukarelawan di sini? Silakan, sebaliknya," kata Netanyahu, tampak mempertanyakan kesediaan pasukan asing untuk melucuti senjata Hamas dengan paksa.
Ia melanjutkan dengan menegaskan bahwa Israel akan memastikan pelucutan senjata itu terjadi, menyatakan: "Itu bisa dilakukan dengan cara yang mudah, itu bisa dilakukan dengan cara yang sulit. Tetapi pada akhirnya itu akan dilakukan."
Pencarian Tawanan Terakhir dan Pertukaran
Di tengah upaya diplomatik, laporan media Arab menyebutkan tim Palang Merah dan anggota sayap bersenjata Hamas melanjutkan pencarian jenazah tawanan Israel yang terakhir, Sersan Polisi Ran Gvili, di area Zeitoun, Kota Gaza. Gvili terbunuh dalam serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, dan jenazahnya seharusnya dikembalikan di bawah ketentuan kesepakatan gencatan senjata awal antara Israel dan Hamas.
"Kami akan mengeluarkannya," ujar Netanyahu dalam konferensi pers hari Minggu.
Tahap pertama rencana perdamaian melibatkan pengembalian 20 tawanan yang masih hidup dan 28 jenazah tawanan yang ditahan di Gaza. Sebagai imbalan, Israel membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina. Israel menuduh Hamas menunda pengembalian jenazah tawanan.
Pelanggaran Gencatan Senjata dan Isu Bantuan
Dua bulan setelah gencatan senjata diberlakukan, kedua belah pihak terus saling menuduh melakukan pelanggaran harian. Pasukan Israel masih mengendalikan lebih dari separuh Jalur Gaza, sementara Hamas sebagian besar telah membangun kembali dirinya di wilayah sisanya.
Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza melaporkan, lebih dari 370 warga Palestina tewas akibat tembakan Israel sejak gencatan senjata berlaku. Israel menyatakan serangannya sebagai respons terhadap pelanggaran Palestina.
Sementara itu, Hamas menuduh Israel gagal memenuhi janji gencatan senjata penting, seperti tidak membanjiri Gaza dengan bantuan dan tidak membuka kembali perbatasan Rafah dengan Mesir. Badan-badan kemanusiaan mengakui adanya peningkatan dramatis dalam pasokan yang masuk, tetapi mereka masih menghadapi pembatasan Israel dan masalah keamanan.
Minggu lalu, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdul Rahman Al Thani mengatakan telah mencapai "momen kritis" dalam proses perdamaian. Netanyahu dijadwalkan mengadakan pertemuan penting dengan Presiden Trump pada 29 Desember untuk memastikan kelanjutan tahap kedua rencana tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews
