
Penulis: Fityan
TVRINews – Beit Lif
Penghancuran Sistematis di Lebanon Selatan Mengancam Gencatan Senjata
Di lereng bukit Lebanon Selatan, desa kecil Beit Lif kini hampir tidak menyisakan jejak kehidupan.
Desa yang dulunya dihuni oleh ribuan warga itu telah berubah menjadi tumpukan beton akibat operasi pembongkaran sistematis oleh militer Israel.

"Mereka merobohkannya secara bertahap hingga mencapai alun-alun utama. Sekarang, seperti yang Anda lihat, tidak ada lagi rumah yang tersisa," ujar Hassan Sweidan, seorang penduduk desa tetangga yang menyaksikan kehancuran Beit Lif dari bukit terdekat, sekitar 4 kilometer di utara perbatasan Lebanon-Israel.
Sejak kesepakatan gencatan senjata dengan Hezbollah dimulai pekan lalu, militer Israel terus meratakan lingkungan di kota-kota dan desa-desa dekat perbatasan. Pihak militer berdalih bahwa bangunan-bangunan tersebut digunakan sebagai pos terdepan oleh kelompok militan yang didukung Iran tersebut. Namun, di banyak lokasi seperti Beit Lif, penghancuran terjadi hampir secara menyeluruh Kutip AP News
Kekhawatiran Krisis Kemanusiaan
Skala kerusakan yang luas ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pejabat dan penduduk Lebanon.
Mereka khawatir ratusan ribu warga yang mengungsi tidak akan memiliki tempat untuk kembali, meskipun gencatan senjata yang rapuh ini tetap bertahan.

Kekhawatiran ini diperkuat oleh pengamatan dari pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL). "Pasukan kami telah mengamati pembongkaran yang terjadi di beberapa area sejak gencatan senjata dimulai," kata Tilak Pokharel, juru bicara UNIFIL.
Pola penghancuran ini mencerminkan apa yang terjadi di Jalur Gaza. Di sana, buldoser dan ledakan terkendali Israel telah meratakan kota Rafah dan wilayah lainnya dengan alasan serupa: menghapus infrastruktur yang digunakan oleh Hamas.
Ketegangan Politik dan Militer
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa wilayah perbatasan telah "dibersihkan dari teroris dan senjata" dan akan terus dibersihkan dari infrastruktur militer, termasuk penghancuran rumah-rumah yang dianggap sebagai pos terdepan teroris.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon berencana membawa isu penghancuran sistematis ini ke meja perundingan di Washington pada hari Kamis. Ini merupakan negosiasi langsung pertama antara kedua negara dalam beberapa dekade terakhir.

Presiden Joseph Aoun menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa "menghentikan operasi pembongkaran Israel di desa-desa selatan" akan menjadi agenda utama yang diangkat oleh duta besar Lebanon di Amerika Serikat.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Meski gencatan senjata 10 hari telah diberlakukan sejak Jumat lalu, stabilitas di lapangan tetap goyah.
Hezbollah melaporkan telah meluncurkan serangan pesawat nirawak dan roket pertama mereka sejak gencatan senjata sebagai respons atas apa yang mereka sebut sebagai "serangan terhadap warga sipil dan penghancuran rumah mereka."
Sementara itu, militer Israel dalam pernyataan resminya bersikeras bahwa target mereka adalah Hezbollah, bukan warga sipil Lebanon.
Mereka mengeklaim beroperasi sesuai dengan hukum internasional dan tidak menghancurkan properti sipil kecuali jika diperlukan oleh kebutuhan militer yang mendesak.
Namun bagi warga seperti Sweidan, argumen hukum dan taktik militer tidak mengubah kenyataan pahit di lapangan. Saat ia memandang ke arah Beit Lif, identitas desa tersebut seakan sedang dihapus secara permanen dari peta.
Editor: Redaksi TVRINews
