
Warga Palestina memeriksa tenda-tenda yang rusak pascaserangan Israel di Kota Gaza, sabtu 10 Januari 2026. [Foto: AP News/Jehad Alshrafi)
Penulis: Fityan
TVRINews – Gaza
Pelanggaran Gencatan Senjata Berlanjut di Tengah Krisis Kemanusiaan yang Memburuk
Ketegangan kembali meningkat di Jalur Gaza setelah serangkaian serangan militer Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina pada Minggu 11 Januari 2026 dini hari.
Insiden ini menandai keretakan terbaru dalam kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati oleh Israel dan Hamas pada Oktober lalu.
Menurut sumber medis yang dihimpun oleh Al Jazeera, operasi militer tersebut mencakup serangan udara dan darat yang menyasar beberapa titik krusial, termasuk Rafah dan Khan Younis di wilayah selatan, serta lingkungan Zeitoun di Gaza City.
Laporan lapangan menyebutkan bahwa metode serangan bervariasi; salah satu korban jiwa dilaporkan jatuh akibat tembakan dari pesawat nirawak (quadcopter) saat korban tengah dievakuasi menuju rumah sakit di Khan Younis.
Sementara itu, kantor berita Wafa melaporkan dua korban lainnya tewas akibat tembakan di wilayah timur Zeitoun.
Klaim Militer Israel*
Di sisi lain, pihak Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa operasi mereka pada hari Sabtu 10 Januari 2026, bertujuan untuk menetralisir ancaman.
Militer Israel mengklaim telah menewaskan tiga individu yang dianggap membahayakan pasukan, termasuk satu orang yang dituduh melakukan pencurian perlengkapan militer.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi apakah data korban dari pihak Israel merujuk pada insiden yang sama dengan yang dilaporkan oleh otoritas medis Gaza.
Tragedi Musim Dingin di Pengungsian
Di tengah eskalasi senjata, krisis kemanusiaan di Gaza mencapai titik nadir akibat cuaca ekstrem. Seorang bayi berusia tujuh hari, Mahmoud al-Aqraa, dilaporkan meninggal dunia di Deir el-Balah akibat hipotermia.
Suhu udara yang merosot hingga 9 derajat Celsius memperburuk kondisi ratusan ribu pengungsi yang hanya berlindung di bawah tenda plastik tipis.
Blokade yang masih berlangsung menyebabkan material krusial untuk perlindungan musim dingin, seperti rumah prefabrikasi dan alat perbaikan tenda, sulit memasuki wilayah kantong tersebut.
Pihak Pertahanan Sipil Gaza menggambarkan situasi ini bukan sekadar fenomena alam, melainkan dampak langsung dari pembatasan logistik.
"Apa yang terjadi saat ini bukanlah krisis cuaca semata, melainkan konsekuensi langsung dari pelarangan masuknya bahan bangunan.
Masyarakat terpaksa tinggal di tenda-tenda robek tanpa keamanan maupun martabat," ujar juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, dalam pernyataan resminya.
Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan skala kerusakan yang sangat luas setelah konflik yang berlangsung lebih dari dua tahun ini.
Diperkirakan hampir 80 persen bangunan di Gaza telah hancur atau mengalami kerusakan berat. Kondisi ini menyebabkan mayoritas penduduk kehilangan tempat tinggal dan sepenuhnya bergantung pada bantuan internasional yang distribusinya masih sering terhambat.
Editor: Redaktur TVRINews
