
Xi Jinping presiden Republik China (Kiri) dan Pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei
Penulis: Fityan
TVRINews – Beijing
Beijing mengecam intervensi asing terhadap kepemimpinan baru Teheran di tengah eskalasi konflik regional yang meningkat.
Pemerintah China secara resmi menyatakan dukungan diplomatik terhadap stabilitas politik di Iran menyusul penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi yang baru.
Dukungan tersebut muncul setelah wafatnya Ali Khamenei dalam rangkaian serangan udara yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel pekan lalu.
Penunjukan Mojtaba, putra mendiang pemimpin tertinggi, dipandang Beijing sebagai langkah konstitusional yang sah untuk menjaga keberlanjutan pemerintahan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyatakan dalam konferensi pers di Beijing bahwa transisi kekuasaan tersebut merupakan kedaulatan penuh rakyat Iran.
"Keputusan Iran untuk menunjuk Khamenei muda didasarkan pada konstitusinya," ujar Jiakun kepada media, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita AFP pada Senin 9 Maret 2026.
Peringatan Terhadap Intervensi Asing
Sikap tegas Beijing ini dipandang sebagai pesan diplomatik langsung kepada Tel Aviv dan Washington.
Sebelumnya, otoritas militer Israel secara terbuka menyatakan akan menargetkan siapa pun yang mengisi posisi puncak kepemimpinan di Iran pasca-serangan tersebut.
Guo Jiakun menekankan bahwa stabilitas Timur Tengah bergantung pada penghormatan terhadap integritas wilayah dan urusan domestik setiap negara.
Ia menegaskan bahwa segala bentuk upaya campur tangan asing hanya akan memperburuk situasi keamanan global.
"China menentang campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain dengan dalih apa pun. Kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah Iran harus dihormati," tegas Guo saat menanggapi ancaman terhadap pemimpin baru Teheran tersebut.
Eskalasi Konflik Regional
Situasi keamanan di kawasan Teluk saat ini berada pada titik kritis. Sebagai balasan atas bombardir udara yang intens, Iran telah meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke wilayah Israel.
Ketegangan ini juga meluas ke negara-negara tetangga yang menampung pangkalan militer Amerika Serikat, memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik terbuka dalam skala besar.
Posisi China dalam konflik ini mempertegas peran mereka sebagai kekuatan penyeimbang yang menentang unipolaritas di Timur Tengah, sambil terus menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik dan penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Editor: Redaktur TVRINews
