
Sejumlah anggota Houthi mengikuti unjuk rasa di Sana'a, Yaman, pekan ini. (Foto: Yahya Arhab/EPA)
Penulis: Fityan
TVRINews, Dubai
Aktivasi Sel Tidur di Tengah Eskalasi Konflik AS-Israel Mengancam Stabilitas Regional
Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru yang mengkhawatirkan. Negara-negara Teluk secara resmi menyuarakan kewaspadaan tinggi atas meningkatnya ancaman dari milisi dan kelompok proksi yang didukung oleh Iran.
Kekhawatiran ini muncul seiring dengan dugaan bahwa Teheran mulai mengaktifkan "sel tidur" di seluruh kawasan sebagai bagian dari respons terhadap konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pekan ini, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, Arab Saudi, dan Yordania mengutuk keras serangan yang terjadi di wilayah mereka.
Serangan tersebut diidentifikasi berasal langsung dari wilayah Iran maupun melalui faksi-faksi bersenjata yang mereka sokong di kawasan tersebut.
Keamanan Dalam Negeri Terancam
Stabilitas domestik kini menjadi prioritas utama setelah otoritas Kuwait mengumumkan keberhasilan mereka menggagalkan plot pembunuhan terhadap pemimpin negara pada Rabu 25 Maret lalu.
Enam tersangka yang berafiliasi dengan Hizbullah—proksi paling kuat milik Iran telah diamankan.
Selama beberapa dekade, Teheran memang menjadikan milisi proksi sebagai pilar kebijakan luar negeri dan keamanan untuk mengekspor revolusi serta memperluas pengaruh regional.
Meski dalam beberapa tahun terakhir sempat terjadi normalisasi hubungan antara Iran dengan negara-negara seperti Arab Saudi dan UEA, dinamika tersebut berubah drastis sejak akhir Februari.
Seiring intensitas serangan terhadap Iran oleh AS dan Israel, fokus retaliasi Teheran justru bergeser ke negara-negara Teluk yang menjadi inang bagi basis militer Amerika Serikat.
Operasi Penindakan Sel Tidur
Fenomena ini memicu gelombang penangkapan di berbagai ibu kota Teluk:
- Qatar : Mengamankan dua sel yang melibatkan lebih dari 10 orang yang terkait dengan rezim Iran.
- Bahrain : Menahan sejumlah individu atas tuduhan spionase untuk kepentingan Teheran.
- Kuwait: Membongkar sel besar yang terkait dengan Hizbullah yang merencanakan gangguan keamanan nasional.
Negara-negara Teluk juga mendesak Pemerintah Irak untuk segera mengambil tindakan tegas guna menghentikan serangan yang diluncurkan oleh milisi dari wilayah mereka.
"Kami menyerukan kepada pemerintah Irak untuk segera menghentikan serangan yang diluncurkan oleh faksi dan kelompok bersenjata guna menjaga hubungan persaudaraan dan menghindari eskalasi lebih lanjut," demikian kutipan pernyataan bersama tersebut.
"Ancaman Eksistensial"
Meski tingkat bahaya saat ini dinilai belum menyamai krisis pada era Perang Iran-Irak tahun 1980-an, para pakar memperingatkan bahwa risiko akan terus meningkat seiring berlarutnya konflik.
Bilal Saab, Direktur Pelaksana Senior di think tank Trends US dan mantan pejabat Pentagon, menilai situasi ini sebagai skenario terburuk bagi stabilitas regional.
"Jika perang ini eskalasi, skenario terburuk bagi negara-negara Teluk adalah Iran mengaktifkan sel tidur dan gerakan milisi Syiah di kawasan ini. Kita belum melihat mereka bertindak sepenuhnya, namun ada tanda-tanda sel yang tidak aktif mulai bergerak di negara-negara seperti Kuwait dan UEA," ujar Saab. Dikutip The Guardian
Saab menambahkan bahwa kekhawatiran terbesar para pemimpin Teluk adalah "Irakisasi" sebuah kondisi di mana kelompok proksi menjadi begitu kuat dan tertanam hingga beroperasi sebagai "negara di dalam negara".
"Saya pikir ini adalah ancaman eksistensial nomor satu bagi negara-negara Teluk. Mereka sudah menghadapi ancaman eksternal berupa rudal dan drone, namun segalanya akan runtuh jika mereka juga harus melawan musuh dari dalam. Mereka akan menghadapi pertempuran di dua front sekaligus," pungkasnya.
Editor: Redaksi TVRINews
