
Senator Van Hollen Tantang Trump dan Bukele
Penulis: Fityan
TVRINews — San Salvador
Sebuah drama diplomatik dan hukum lintas negara tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan El Salvador. Senator asal Maryland, Chris Van Hollen, secara khusus terbang ke San Salvador pada Rabu (16/4) untuk bertemu Wakil Presiden El Salvador, Félix Ulloa, guna menekan pembebasan Kilmar Abrego Garcia, pria asal El Salvador yang dideportasi dari Amerika Serikat pada Maret lalu, meskipun pengadilan imigrasi AS telah memutuskan bahwa deportasi tersebut seharusnya tidak dilakukan.
Dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut, Van Hollen mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyatakan bahwa pemerintah El Salvador menolak mengizinkannya bertemu langsung dengan Abrego Garcia, yang kini ditahan di sebuah penjara maksimum keamanan yang dikenal luas sebagai penjara khusus geng paling kejam di negeri itu.
Kasus ini telah menjadi isu panas di dalam negeri AS, terlebih di tengah suhu politik yang memanas menjelang pemilu. Pemerintahan Trump, yang saat ini kembali berkuasa, mengecam kunjungan Van Hollen ke El Salvador. Sementara para politisi Demokrat menyuarakan dukungan kuat terhadap Abrego Garcia.
Abrego Garcia adalah warga negara El Salvador yang sempat tinggal di Maryland. Pemerintah AS menudingnya memiliki keterkaitan dengan geng kriminal MS-13. Namun pengacaranya menyatakan tidak ada bukti yang mendukung tuduhan tersebut. Abrego pun belum pernah dijerat dengan dakwaan pidana apapun terkait keanggotaan geng.
Senator Van Hollen, yang juga anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, menilai ini bukan sekadar kasus deportasi biasa.
“Ini adalah ketidakadilan yang mencolok. Pemerintahan Trump telah berbohong. Pengadilan kita sudah memeriksa fakta-faktanya,” ujar Van Hollen.
Pemerintah AS, melalui juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt, tetap bersikukuh bahwa Abrego Garcia tidak akan dikembalikan ke AS. Dalam konferensi pers, Leavitt bahkan menghadirkan ibu dari Rachel Morin, korban pembunuhan oleh pelaku asal El Salvador di Maryland pada tahun 2023 sebagai bentuk tekanan emosional terhadap Partai Demokrat.
“Ini memalukan. Senator Van Hollen dan para Demokrat yang memuji kunjungannya hari ini telah kehilangan empati dan akal sehat,” sindir Leavitt.
Isu ini memperdalam jurang antara Partai Republik dan Demokrat. Sementara kubu Trump menggunakan narasi keamanan dan anti-imigran ilegal, para Demokrat justru menjadikan kasus ini sebagai bukti pelanggaran konstitusi dan pengabaian terhadap keputusan Mahkamah Agung.
Anggota Kongres dari Demokrat, termasuk Senator Cory Booker dan beberapa anggota DPR seperti Robert Garcia dan Maxwell Frost, menyatakan niat untuk turut mengunjungi El Salvador. Bahkan Rep. Yassamin Ansari dari Arizona menegaskan akan berangkat untuk menunjukkan solidaritas terhadap Abrego Garcia.
“Orang tua saya melarikan diri dari rezim otoriter di Iran, tempat orang-orang ‘menghilang’. Saya tidak akan tinggal diam melihat hal serupa terjadi di sini,” ujar Ansari.
Pemerintahan El Salvador sendiri, di bawah Presiden Nayib Bukele, sejak Maret telah menerima lebih dari 200 imigran dari AS, termasuk mereka yang dituduh terlibat aktivitas kriminal. Mereka kemudian ditempatkan di penjara geng paling brutal di luar San Salvador, sebagai bagian dari strategi “tangan besi” Bukele melawan kejahatan jalanan, kebijakan yang meski kontroversial, sangat populer di dalam negeri.
Namun, kelompok hak asasi manusia menuding adanya praktik penyiksaan sistematis di penjara-penjara tersebut. Pemerintah Bukele membantah tuduhan itu.
Sementara itu, Van Hollen menutup kunjungannya dengan pesan tegas:
“Kilmar Abrego Garcia diculik secara ilegal dari Amerika Serikat dan tidak melakukan kejahatan apa pun. Saya akan terus memperjuangkan keadilan untuknya.”
Editor: Redaktur TVRINews
