
Petugas Keamanan berjaga jaga di Guanajuato, Meksiko Tengah (Foto: EPA)
Penulis: Fityan
TVRINews - Salamanca, Meksiko
Wali Kota Salamanca minta bantuan federal usai kelompok bersenjata serang warga di Guanajuato.
Tragedi berdarah mengguncang wilayah tengah Meksiko setelah sekelompok pria bersenjata melepaskan tembakan dalam sebuah pertandingan sepak bola pada Minggu 25 Januari 2026 waktu setempat. Insiden ini mengakibatkan sedikitnya 11 orang tewas dan 12 lainnya luka-luka.
Wali Kota Salamanca, César Prieto, mengonfirmasi bahwa serangan terjadi sesaat setelah pertandingan berakhir.
Sepuluh korban dilaporkan tewas di lokasi kejadian, sementara satu korban lainnya mengembuskan napas terakhir setelah sempat dilarikan ke rumah sakit.
"Sangat disayangkan, terdapat kelompok kriminal yang mencoba menundukkan otoritas, sesuatu yang tidak akan pernah mereka capai," tegas Prieto dalam pernyataan resmi melalui media sosial dan di kutip oleh The Guardian.
Ia juga menambahkan bahwa di antara para korban luka terdapat seorang wanita dan seorang anak-anak.
Eskalasi Kekerasan Kartel
Guanajuato kini berada dalam pengawasan ketat setelah tercatat sebagai negara bagian dengan angka pembunuhan tertinggi di Meksiko sepanjang tahun lalu.
Wilayah ini menjadi medan tempur perebutan kekuasaan antara geng lokal Santa Rosa de Lima dengan Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG) yang sangat berpengaruh.
Menyikapi situasi yang kian mencekam, Wali Kota Prieto menyebut serangan ini sebagai bagian dari "gelombang kejahatan" yang melanda kota tersebut.
Ia secara terbuka meminta intervensi langsung dari Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, untuk membantu mengendalikan situasi keamanan.
Respons Pemerintah
Kantor Kejaksaan Negara Bagian menyatakan telah memulai penyelidikan mendalam dan berkoordinasi dengan otoritas federal guna memperkuat pengamanan di area terdampak.
Meskipun Pemerintah Meksiko mengeklaim bahwa angka pembunuhan nasional pada tahun 2025 merupakan yang terendah sejak 2016 dengan rasio 17,5 per 100.000 penduduk sejumlah analis skeptis.
Mereka menilai angka statistik tersebut mungkin belum sepenuhnya mencerminkan realitas kekerasan yang terjadi di lapangan.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pengejaran terhadap para pelaku masih terus dilakukan oleh aparat gabungan militer dan kepolisian federal.
Editor: Redaksi TVRINews
