TVRInews – Muscat
Serangan Rudal di Selat Hormuz Tewaskan Awak Kapal dan Lumpuhkan Jalur Logistik Dunia
"Semuanya menjadi gelap seketika. Lalu, api mengguyur dari atas." Kalimat itu diucapkan Basis*, seorang pelaut yang masih dihantui trauma mendalam.
Ia adalah salah satu penyintas dari peristiwa ledakan dahsyat yang menghantam kapal tanker MKD Vyom di Teluk Oman, sebuah insiden berdarah di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Ledakan yang terjadi pada pagi hari tanggal 1 Maret tersebut merobek ruang mesin tanpa peringatan. Basis menggambarkan momen itu sebagai simulasi neraka di tengah laut.
"Terjadi gelombang kejut yang sangat besar dan bola api menyambar," kenangnya dalam wawancara eksklusif yang dilansir dari laporan The Guardian Jumat 8 Mei 2026.
"Selama satu atau dua detik, saya pingsan. Saat terbangun, tenaga listrik padam. Saya melihat ke atas api dan asap hitam pekat mengucur deras."
Kehilangan di Ruang Mesin
Di tengah kegelapan total dan sesak napas akibat asap yang membakar paru-paru, insting bertahan hidup Basis mengambil alih. Ia merangkak di antara pipa-pipa logam yang hancur dan pintu tahan api setebal 2 cm yang telah hancur berkeping-keping.
Namun, tidak semua rekan setimnya seberuntung itu. Dixit Solanki (32), seorang petugas oli asal Mumbai, India, dinyatakan hilang saat api berkobar di ruang mesin.
Awak kapal yang terdiri dari pelaut Ukraina, India, dan Bangladesh mencoba melawan api secara manual menggunakan ember dan pasir karena sistem pemadam otomatis lumpuh.
"Kami mencoba yang terbaik untuk mengevakuasi jenazahnya demi keluarganya," kata Basis. Namun, kebakaran kedua yang dipicu oleh pecahnya tangki bahan bakar memaksa kapten mengeluarkan perintah evakuasi total. "
Meninggalkan rekan yang terjebak di ruang mesin adalah hal yang tak tertahankan. Kami merasa telah gagal."
Di India, ayah korban, Amratlal Gokal Solanki (64), mengenang putranya sebagai sosok pahlawan.
"Dia bukan sekadar pelaut; dia adalah pelindung dan jantung keluarga kami. Kehilangannya meninggalkan kekosongan yang tidak akan pernah bisa terisi," ungkapnya dengan nada getir.
Krisis Kemanusiaan di Jalur Perdagangan
Insiden MKD Vyom hanyalah puncak gunung es dari krisis yang lebih luas. Sejak konflik pecah pada 28 Februari, sedikitnya 10 pelaut tewas dan 32 serangan terhadap kapal dilaporkan di wilayah tersebut.
Kini, sekitar 20.000 pelaut terjebak di atas 800 kapal di sepanjang Selat Hormuz, jalur yang biasanya mengangkut seperlima pasokan minyak dunia.
Mohamed Arrachedi, koordinator dari International Transport Workers’ Federation (ITF), mengungkapkan adanya lonjakan permohonan bantuan hingga 100 kali lipat.
"Ketika Anda berbicara dengan pria berusia 45 tahun yang menangis dan berkata 'hidup saya ada di tangan Anda', namun Anda tidak bisa menjanjikan solusi, itu adalah situasi yang sangat sulit," jelas Arrachedi.
Desakan Internasional
Menanggapi situasi ini, Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, telah menyerukan implementasi rencana terkoordinasi untuk mengevakuasi para pelaut yang terjebak.
Para pelaut ini dipandang sebagai korban tak bersalah dari krisis geopolitik yang berkepanjangan.
Bagi Basis, berbicara ke publik adalah caranya untuk menyuarakan penderitaan rekan-rekannya yang masih terombang-ambing di laut tanpa kepastian.
"Mereka terjebak, lebih buruk daripada tahanan, tanpa komunikasi dan keterbatasan logistik," tutupnya. "Sudah waktunya bagi negara-negara anggota di sektor pelayaran untuk bertindak. Izinkan para pelaut kami pulang."










