Penulis: Fityan
TVRINews – Rio de Janeiro
Rekor Kelam: Penggerebekan Terbesar di Favela Sasar Kartel Narkoba, PBB Desak Investigasi Cepat.
Sedikitnya 121 orang tewas dalam sebuah operasi polisi gabungan yang diklaim sebagai operasi paling mematikan dan terbesar dalam sejarah Rio de Janeiro, Brasil.
Operasi yang menargetkan aktivitas perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisir ini telah mengguncang negara tersebut dan memicu perhatian internasional.
Korban Berjatuhan dalam Operasi Besar
Operasi yang melibatkan sekitar 2.500 personel dari berbagai kesatuan kepolisian, termasuk penggunaan kendaraan lapis baja, dilaksanakan di berbagai lingkungan di provinsi Rio de Janeiro, termasuk di kawasan padat seperti Complexo de Alemao dan Penha.
Polisi Militer Brasil mengonfirmasi kepada media pada Rabu (waktu setempat) bahwa jumlah korban tewas mencapai setidaknya 121 orang, menjadikannya operasi tunggal paling mematikan yang pernah dilakukan di negara bagian tersebut.
Selain korban tewas, sedikitnya 56 orang dilaporkan telah ditangkap. Operasi ini secara spesifik menargetkan geng Comando Vermelho yang terlibat dalam perdagangan narkoba, kata pemerintah negara bagian.
Pada Rabu, pemandangan tragis terlihat ketika jenazah-jenazah korban operasi tersebut diletakkan berjejer di tanah untuk diidentifikasi oleh pihak keluarga. Sumber di Brasil menyebutkan bahwa angka kematian diperkirakan masih bisa bertambah.
Reaksi dari Istana dan Dunia
Skala kematian yang mengerikan ini sontak memicu keterkejutan di tingkat tertinggi pemerintahan Brasil.
Menteri Kehakiman Brasil, Ricardo Lewandowski, menyampaikan bahwa Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan "terkejut" dengan jumlah korban jiwa yang sangat besar tersebut.
Yang lebih mengejutkan, operasi dengan skala sebesar itu diyakini telah dilaksanakan "tanpa sepengetahuan atau keterlibatan pemerintah federal."
Lewandowski mengutip kekhawatiran Presiden Lula:
"Presiden Lula... sungguh terkejut. Beliau bertanya, bagaimana mungkin operasi sebesar ini, yang memakan korban ratusan orang, bisa terjadi tanpa ada koordinasi atau pemberitahuan sedikit pun kepada kami di Brasília?"
Reaksi keras juga datang dari komunitas global. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kekhawatiran mendalam.
“Sekretaris Jenderal sangat prihatin atas banyaknya korban jiwa selama operasi polisi yang dilakukan kemarin di favela-favela di Rio de Janeiro,” kata Dujarric. Ia menambahkan bahwa PBB mendesak adanya investigasi:
"Penggunaan kekuatan dalam operasi polisi harus mematuhi standar dan hukum hak asasi manusia internasional. Otoritas harus segera melakukan penyelidikan yang cepat dan tuntas. Ini bukan hanya angka; ini adalah nyawa yang hilang secara brutal."
Bayang-bayang di Tengah Perhelatan Global
Insiden mematikan ini terjadi menjelang serangkaian acara global besar yang akan diselenggarakan di Brasil. Minggu depan,
Rio akan menjadi tuan rumah KTT C40 para walikota global, serta penghargaan Earthshot Prize Pangeran William, yang akan menarik sejumlah selebriti terkemuka ke wilayah tersebut.
Pada November, Brasil juga akan menyelenggarakan KTT Iklim PBB, COP30, di Belem.
Skala kekerasan terbaru ini dikhawatirkan dapat mencoreng citra keamanan Brasil di mata dunia jelang kedatangan para pemimpin dan tokoh global.
Editor: Redaksi TVRINews
