
Presiden Amerika Serikat Donlad Trump Dalam Pidato Kenegaraan (Foto: The Guardian)
Penulis: Fityan
TVRINews-Washington DC
Presiden Amerika Serikat menekankan capaian patriotisme dan optimisme ekonomi di tengah sorotan tajam oposisi.
Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan (State of the Union) yang sarat dengan retorika kemenangannya pada Selasa 24 Februari 2026 malam waktu setempat.
Di hadapan Kongres, Trump memuji apa yang ia sebut sebagai "kebangkitan Amerika yang bersejarah," sebuah upaya untuk meyakinkan publik di tengah merosotnya angka kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinannya.
Dalam pidato yang berlangsung selama 107 menit tersebut salah satu yang terlama dalam Sejarah Trump memberikan narasi optimisme tinggi bagi para pendukung setianya.
"Bangsa kita telah kembali," ujarnya, seraya menyebut Amerika Serikat sebagai negara dengan ekonomi "paling panas" di dunia saat ini.
Panggung Teatrikal dan Simbol Patriotisme
Mengadopsi gaya komunikasi khas tokoh televisi, Trump mengisi pidatonya dengan berbagai momen teatrikal yang dirancang untuk menarik perhatian kamera.
Ia menyambut tim hoki putra Olimpiade AS di galeri, sebuah langkah yang memicu sorakan "USA!" dari pihak Republik, sementara pihak Demokrat turut berdiri memberikan apresiasi.
Tak hanya itu, nuansa patriotisme semakin kental saat Presiden memberikan penghormatan kepada pahlawan militer.
Di antaranya adalah veteran Perang Dunia II berusia 100 tahun dan seorang anggota Coast Guard yang menyelamatkan ratusan nyawa saat banjir Texas tahun lalu.
"Negara kita menang lagi," pungkas Trump, mencoba membangun narasi keberhasilan melalui indikator kenaikan pendapatan, pertumbuhan pasar saham, serta penurunan harga bahan bakar.
Minim Kebijakan Baru dan Tantangan Domestik
Meski penuh dengan semangat patriotik, pidato tersebut dinilai minim menawarkan terobosan kebijakan baru.
Trump lebih banyak menekankan kembali gagasan lama, seperti skema tabungan pensiun kelas pekerja, rencana perawatan kesehatan, serta kewajiban pembuktian kewarganegaraan bagi pemilih.
Namun, ketegangan mulai terasa saat pembahasan beralih ke kebijakan ekonomi dan imigrasi:
- Tarif Dagang: Trump menegaskan akan tetap melanjutkan kebijakan tarif, meskipun Mahkamah Agung baru saja membatalkan beberapa ketentuan tugas tersebut. Hal ini memicu gumaman dari kubu Demokrat dan keheningan canggung dari beberapa anggota Republik yang mengkhawatirkan dampak ekonomi jangka panjang.
- Imigrasi: Isu ini memicu reaksi paling keras. Trump menyebut imigran tidak berdokumen sebagai ancaman, sebuah pernyataan yang disambut tepuk tangan riuh dari Republik namun diteriaki kemarahan oleh Demokrat.
- Keamanan Perbatasan: Di tengah bayang-bayang insiden penembakan warga sipil oleh agen federal di Minneapolis yang sempat menggerus elektabilitasnya, Trump memilih untuk tidak membahas insiden tersebut secara langsung. Ia justru memfokuskan narasi pada angka kriminalitas yang melibatkan migran.
Strategi Menuju Pemilihan Paruh Waktu
Secara politik, pidato ini merupakan upaya strategis menjelang pemilihan paruh waktu (midterm elections) yang akan datang dalam delapan bulan ke depan. Dengan tingkat persetujuan publik yang tertahan di angka 40 persen, Trump dan timnya berharap panggung besar ini dapat mengubah suasana hati pemilih.
Di bidang kebijakan luar negeri, isu Iran hanya mendapat porsi kecil. "Preferensi saya adalah menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi, tetapi satu hal yang pasti: saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia memiliki senjata nuklir," tegasnya.
Kini, pertanyaan besarnya adalah apakah retorika kemenangan ini mampu menyentuh kehidupan sehari-hari warga Amerika yang masih merasa tidak puas.
Trump tampaknya bertaruh bahwa rasa patriotisme, terutama menjelang perayaan ulang tahun ke-250 Amerika Serikat musim panas ini, akan menjadi momentum balik bagi kepemimpinannya.
Editor: Redaktur TVRINews
