
Sebuah pos penjagaan militer Korea Utara (atas) dan pos Korea Selatan (bawah) terlihat dari Paju, Korea Selatan tempat lokasi Latuhan Milliter Korsel dan AS (Foto: AP News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Seoul, Korea Selatan
Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah, Washington dan Seoul memulai latihan 'Freedom Shield' untuk memperkuat pertahanan semenanjung.
Amerika Serikat dan Korea Selatan resmi memulai latihan militer gabungan berskala besar pada Senin 9 Maret 2026, yang melibatkan ribuan personel di tengah dinamika keamanan global yang kian kompleks.
Latihan bertajuk Freedom Shield ini berlangsung saat perhatian militer Washington juga terbagi pada eskalasi konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Kepala Staf Gabungan Korea Selatan menyatakan bahwa sekitar 18.000 tentara Korea Selatan berpartisipasi dalam latihan yang dijadwalkan berlangsung hingga 19 Maret mendatang.
Meski demikian, pihak US Forces Korea (USFK) belum mengonfirmasi jumlah pasti personel Amerika yang dikerahkan dalam latihan kali ini.
Spekulasi Pergeseran Aset Militer
Latihan ini digelar di tengah spekulasi media lokal yang menyebutkan bahwa Washington kemungkinan merelokasi sejumlah aset pertahanan dari Korea Selatan untuk mendukung operasi di Timur Tengah, khususnya dalam menghadapi ketegangan dengan Iran.
Menanggapi laporan tersebut, USFK menyatakan pekan lalu bahwa pihaknya tidak akan memberikan komentar terkait pergerakan spesifik aset militer demi alasan keamanan.
Pejabat Seoul juga menolak berkomentar mengenai laporan pemindahan sistem rudal Patriot ke luar wilayah Korea.
"Tidak akan ada dampak signifikan terhadap postur pertahanan gabungan sekutu," ujar seorang pejabat senior Korea Selatan, menegaskan bahwa kesiapan tempur di semenanjung tetap terjaga.
Respons Pyongyang dan Dinamika Regional
Freedom Shield merupakan satu dari dua latihan pos komando tahunan utama bagi kedua negara selain Ulchi Freedom Shield yang diadakan setiap Agustus.
Latihan ini didominasi oleh simulasi komputer guna menguji kemampuan operasional bersama dalam menghadapi berbagai skenario keamanan yang berkembang.
Meski sekutu menegaskan bahwa latihan ini bersifat defensif, Korea Selatan dan AS mewaspadai potensi respons keras dari Korea Utara. Pyongyang secara konsisten melabeli latihan gabungan tersebut sebagai provokasi dan latihan untuk invasi.
Ketegangan di semenanjung tetap tinggi sejak kegagalan diplomasi antara Kim Jong Un dan Donald Trump pada 2019. Dalam beberapa tahun terakhir, Kim justru mempercepat pengembangan gudang senjata nuklirnya dan mempererat aliansi militer dengan Moskow.
Diplomasi di Balik Latihan
Menariknya, intensitas latihan lapangan (field training) dalam periode ini tercatat menurun menjadi 22 latihan, dibandingkan dengan 51 latihan pada tahun lalu.
Hal ini memicu spekulasi bahwa Seoul dan Washington tengah berupaya meredam tensi guna menciptakan ruang bagi dialog.
Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, telah menyatakan keinginannya untuk menempuh jalur diplomasi. Beberapa pejabat tinggi di Seoul menaruh harapan bahwa momentum kunjungan tingkat tinggi Amerika Serikat ke kawasan Asia pada akhir Maret atau April mendatang dapat membuka pintu komunikasi kembali dengan Pyongyang.
Editor: Redaksi TVRINews
