
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio Dan Presiden AS. Donald Trump (Kanan) (Foto: BBC News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Washington DC
Langkah ini menandai mundurnya Amerika Serikat dari kerja sama global, termasuk perjanjian iklim utama PBB.
Pemerintahan Donald Trump secara resmi mengumumkan penarikan diri Amerika Serikat dari puluhan organisasi internasional.
Langkah ini mempertegas arah kebijakan luar negeri AS yang semakin menjauh dari kerja sama multilateral dan berfokus pada kedaulatan nasional.
Pada hari Rabu 7 Januari 2026, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif yang menghentikan dukungan AS terhadap 66 organisasi, badan, dan komisi internasional.
Keputusan ini diambil menyusul instruksi presiden untuk meninjau kembali partisipasi serta pendanaan bagi seluruh lembaga internasional, termasuk yang berafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Efisiensi dan Kedaulatan Nasional
Mayoritas lembaga yang menjadi target adalah badan di bawah naungan PBB yang berfokus pada isu iklim, tenaga kerja, dan inisiatif sosial. Pihak Gedung Putih mengkategorikan lembaga-lembaga tersebut sebagai bagian dari inisiatif yang tidak sejalan dengan prioritas nasional.
"Pemerintah menemukan bahwa lembaga-lembaga ini tumpang tindih dalam ruang lingkupnya, salah kelola, tidak perlu, dan boros," demikian pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.
Pernyataan tersebut juga menambahkan bahwa beberapa lembaga dianggap sebagai ancaman terhadap kebebasan dan kemakmuran nasional AS.
Daniel Forti, analis senior PBB di International Crisis Group, menilai langkah ini sebagai perubahan fundamental.
"Apa yang kita lihat adalah kristalisasi pendekatan AS terhadap multilateralisme, yaitu 'ikuti cara saya atau tidak sama sekali'. Ini adalah visi yang sangat jelas tentang keinginan kerja sama internasional hanya berdasarkan persyaratan Washington," ujarnya.
Dampak pada Isu Iklim dan Kemanusiaan
Salah satu poin paling krusial adalah penarikan diri dari UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
Perjanjian tahun 1992 ini merupakan landasan bagi Kesepakatan Iklim Paris. Para ilmuwan memperingatkan bahwa mundurnya AS dapat menghambat upaya global dalam menekan emisi gas rumah kaca.
Rob Jackson, ilmuwan iklim dari Universitas Stanford, menyatakan keprihatinannya. Menurutnya, langkah ini memberikan alasan bagi negara lain untuk menunda komitmen mereka sendiri terhadap krisis iklim.
Selain isu lingkungan, AS juga menghentikan dukungan bagi badan kependudukan PBB yang menyediakan layanan kesehatan reproduksi global.
Pemerintah AS sebelumnya menuduh badan tersebut terlibat dalam praktik yang tidak sejalan dengan kebijakan domestik mereka, meskipun tinjauan pada masa pemerintahan sebelumnya tidak menemukan bukti kuat atas klaim tersebut.
Fokus pada Persaingan Global
Meski menarik diri dari banyak badan, pejabat AS menegaskan bahwa dana pembayar pajak akan dialihkan untuk memperkuat pengaruh Amerika pada lembaga-lembaga yang bersifat strategis, terutama yang berkaitan dengan persaingan teknologi dan ekonomi dengan China.
Lembaga yang tetap menjadi fokus AS antara lain:
- Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU)
- Organisasi Maritim Internasional (IMO)
- Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)
Daftar organisasi yang ditinggalkan mencakup berbagai sektor, mulai dari Universitas PBB hingga kelompok studi logam internasional.
Departemen Luar Negeri menyatakan bahwa proses peninjauan terhadap lembaga internasional lainnya masih terus berlangsung.
Editor: Redaktur TVRINews
