Penulis: Fityan
TVRINews – Asia
22 Negara Asia Dihantam Surat Tarif, Trump Kembali Mengguncang Asia: Jepang dan Negara-Negara Asia Kewalahan Hadapi Gelombang Tarif AS
Siapa Bertahan dan Siapa Tumbang?
"Sangat disesalkan," ujar Perdana Menteri Jepang, Shigeru Ishiba, menanggapi keputusan Presiden AS Donald Trump yang kembali menjatuhkan ancaman tarif sebesar 25% terhadap produk asal Jepang. Pernyataan itu mencerminkan kekecewaan mendalam Tokyo terhadap langkah terbaru Washington yang menghantam sekutu lamanya secara terbuka.
Setelah berbulan-bulan negosiasi yang intens dengan Menteri Perdagangan Jepang bolak-balik ke Washington lebih dari tujuh kali sejak April hasil yang diharapkan belum juga tercapai. Sebaliknya, Jepang kini masuk dalam daftar 22 negara yang menerima surat ancaman tarif dari Trump, 14 di antaranya adalah negara Asia.
Ancaman tarif ini datang dengan tenggat waktu yang ketat: hingga 1 Agustus untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Negara-negara seperti Korea Selatan, Sri Lanka, Malaysia, hingga Thailand, semuanya bergantung besar pada ekspor dan kini tengah dihantui ketidakpastian.
Menurut Suan Teck Kin, Kepala Riset United Overseas Bank, “Kasus optimisnya, tekanan ini bisa mendorong lebih banyak negosiasi menjelang tenggat tersebut.”
Namun yang menjadi kekhawatiran adalah ketidakjelasan isi surat itu sendiri. Alex Capri, dosen bisnis di National University of Singapore, menyebut bahwa pelacakan barang transhipped—produk Tiongkok yang dialihkan melalui negara ketiga memerlukan teknologi rantai pasok yang canggih dan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
Pukulan bagi Asia :
Tarif ini tak hanya memukul eksportir Asia, tetapi juga menghantam manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi kawasan. Mulai dari elektronik hingga tekstil, Asia sedang kehilangan daya saing akibat kebijakan sepihak ini.
Beberapa negara seperti Vietnam dan Kamboja bahkan menghadapi tarif hingga 40%—padahal mereka sudah terlebih dulu mencoba menjalin kesepakatan. Di sisi lain, negara seperti Jepang dan Korea Selatan mungkin bisa menahan tekanan lebih lama berkat kekuatan ekonomi dan pengaruh geopolitik yang lebih besar.
Hubungan AS-Jepang di Ujung Tanduk :
Ekonom Jesper Koll menilai, meski Jepang merupakan mitra ekonomi dan militer dekat AS, mereka kini diperlakukan layaknya negara Asia lainnya. Hal ini bisa mengubah arah hubungan bilateral ke depan, apalagi Tokyo telah menyiapkan strategi jangka panjang menghadapi kebijakan tidak menentu Trump.
“Sehari setelah Trump mengumumkan tarif pada April, Jepang langsung mendeklarasikan keadaan darurat ekonomi dan membuka ratusan pusat konsultasi untuk membantu perusahaan terdampak,” ujar Koll.
Namun, dengan pemilu parlemen atas Jepang yang akan digelar bulan ini, peluang kesepakatan dalam waktu dekat sangat tipis. “Tidak ada yang senang, tapi apakah ini akan menyebabkan resesi di Jepang? Tidak,” tambahnya.
China Diam-Diam Mendulang Untung?
Para pengamat menyebut, Trump bisa jadi sedang kehilangan posisi tawar. Surat ancaman tarif yang diunggah secara publik, bukan melalui jalur diplomatik formal, dianggap sebagai “pertunjukan politik” oleh Capri. Langkah ini justru memberi keuntungan strategis bagi China yang tengah mencoba tampil sebagai alternatif yang stabil dan rasional dibandingkan Trump yang tidak terprediksi.
Meski begitu, pasar AS tetap sulit digantikan. China sendiri memiliki masalah serupa dengan beberapa negara Asia lainnya, sehingga posisi mereka juga tidak sepenuhnya aman.
“Kedua pihak memang ingin ‘bercerai’, tapi prosesnya akan panjang dan menyakitkanmungkin memakan waktu bertahun-tahun,” ujar Prof. David Jacks dari National University of Singapore.
Baca juga: Vietnam Siap Pasok Beras Jangka Panjang ke Indonesia, RI Rancang Skema Ekspor Bersama
Editor: Redaksi TVRINews
