Penulis: Fityan
TVRINews – MOSKOW
Dari mengejar tikus di lorong hingga menjinakkan oligarki dan oposisi. Putin terus bertahan, dan mungkin akan lebih lama lagi.
Di masa kecilnya di sebuah apartemen kumuh di Leningrad (kini St. Petersburg), Vladimir Putin kecil dan teman-temannya sering mengejar tikus dengan tongkat. Suatu hari, seekor tikus besar yang terpojok berbalik menyerang dan mengejar Putin muda hingga kembali ke kamarnya.
"Itu pelajaran cepat dan tak terlupakan tentang arti kata 'terpojok'," kenangnya dalam sebuah wawancara kepada media setempat pada tahun 2000.
Bagi para pengamat Kremlin, kisah ini mencerminkan pandangan hidup Putin: jika terdesak, ia akan menyerang balik. Prinsip bertahan dan menyerang inilah yang mewarnai perjalanan politik Putin sejak awal hingga kini, di usia 72 tahun dan 25 tahun setelah pertama kali menjabat sebagai presiden Rusia.
Masa Kecil yang Keras, Jiwa Bertahan yang Kuat :
Lahir tahun 1952, tujuh tahun setelah Perang Dunia II berakhir, Putin tumbuh dalam keluarga dengan luka perang yang masih segar. Dua kakaknya meninggal dunia, satu karena kelaparan saat Pengepungan Leningrad dan satu lagi saat masih bayi. Ayahnya terluka parah akibat granat, dan ibunya digambarkan sebagai sosok yang dingin.
Putin kecil dikenal pendiam dan kurus, namun keras kepala dan suka berkelahi. Ia belajar bela diri seperti judo dan sambo sejak usia muda, serta menjalin persahabatan dengan Arkady Rotenberg teman dekat yang hingga kini tetap berada dalam lingkaran dalamnya.
Dari Judo ke Intelijen: Jalan Menuju KGB
Putin mulai belajar bahasa Jerman saat sekolah, sebuah kemampuan yang kemudian membawanya ke Jerman Timur sebagai agen KGB atau Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (Komite Keamanan Negara). Terinspirasi dari film serial mata-mata, seperti The Shield and the Sword, ia mendaftar ke KGB setelah lulus dari Universitas Negeri Leningrad pada akhir 1970-an.
Menurut eks politikus oposisi Gennady Gudkov, kepada Al Jazeera, Putin lolos seleksi ketat untuk masuk Institut Andropov akademi intelijen elit Soviet dengan catatan psikologis yang menggambarkan dirinya sebagai pribadi tertutup, pengambil risiko, dan memiliki rasa bahaya yang rendah.
Pecahnya Uni Soviet: Trauma dan Pelajaran Kekuasaan :
Tugasnya di KGB membawanya ke Dresden, Jerman Timur, hingga tahun 1989 saat komunisme runtuh di Eropa Timur. Ketika massa mendekati kantor KGB di Dresden, Putin menelepon markas militer Soviet minta bantuan. Namun jawabannya mengejutkan: "Kami tidak bisa bertindak tanpa perintah dari Moskow... dan Moskow diam."
Pengalaman itu membentuk ketidakpercayaannya terhadap revolusi rakyat dan melekatkan trauma kekacauan membuatnya bertekad agar kehancuran seperti itu tidak terulang di Rusia.
Putin menyebut runtuhnya Uni Soviet sebagai "bencana geopolitik terbesar abad ke-20". Ia muak dengan kehancuran ekonomi dan sosial pasca-1991, saat mafia dan oligarki merebut kendali negara melalui privatisasi dan kekerasan.
Lonjakan ke Puncak: Dari Wakil Wali Kota ke Presiden :
Kembali ke St. Petersburg, Putin menjadi tangan kanan Wali Kota Anatoly Sobchak, mentornya yang memperkenalkannya ke dunia politik tingkat tinggi. Setelah Sobchak kalah dalam pemilu lokal, Putin pindah ke Moskow pada 1996 dan dengan cepat menapaki karier hingga menjadi kepala Dinas Keamanan Federal (FSB), penerus KGB.
Pada 1999, Presiden Boris Yeltsin menunjuk Putin sebagai Perdana Menteri dan tak lama kemudian sebagai penggantinya. Dukungan dari oligarki seperti Boris Berezovsky dan media-media besar membantu memoles citranya sebagai pemimpin kuat dan visioner. Namun ironi sejarah terjadi: tak lama setelah menjabat, Putin mulai memangkas kekuasaan para oligarki yang dulu membesarkannya.
Chechnya dan Citra ‘Man of Action’ :
Puncak penguatan citranya terjadi saat perang kedua di Chechnya meletus tahun 1999. Setelah serangkaian bom meledak di apartemen warga Rusia yang menewaskan ratusan orang—dan dituding dilakukan oleh militan Chechnya Putin melancarkan perang habis-habisan.
Ia bersumpah akan “menghancurkan para teroris sampai ke toilet” dan menindak keras perlawanan di Chechnya. Keberhasilannya mengembalikan "kehormatan nasional" membuat popularitasnya meroket. Kota Grozny dibombardir habis-habisan dan PBB menyebutnya sebagai “kota paling hancur di dunia” pada tahun 2003.
Apa Selanjutnya?
Kini, di tahun 2025, Vladimir Putin memasuki dekade keempat dalam lingkaran kekuasaan. Dengan perubahan konstitusi yang membuka jalan untuk tetap berkuasa hingga 2036, dan tanpa oposisi berarti di dalam negeri, dunia bertanya: apakah ini puncak, atau justru awal dari era baru Putin?
Namun satu hal tampak pasti: pria yang pernah dikejar tikus besar di lorong gelap Leningrad tidak pernah melupakan pelajaran masa kecilnya. Jika merasa terpojok, dia akan menyerang balik dan bertahan.
Baca Juga: Sambut Kloter Pertama, Seluruh Fasilitas Jemaah di Mekah Siap Digunakan
Editor: Redaktur TVRINews
