
Presiden Donald Trump berbicara kepada para wartawan setibanya di Bandara Kota Morristown, New Jersey ( Foto : AP- News )
Penulis: Fityan
TVRInews – Washington, DC
Presiden AS Kembali Bertolak Belakang dengan Temuan Intelijen, Picu Kekhawatiran Peran AS dalam Konflik Iran-Israel
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menimbulkan kontroversi dengan menolak kesimpulan komunitas intelijen negaranya sendiri terkait program nuklir Iran. Dalam pernyataan terbaru pada Jumat (20/6), Trump secara terbuka menyatakan bahwa Direktur Intelijen Nasional (DNI) AS, Tulsi Gabbard, "salah" ketika menyebut bahwa Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir.
“Kalau begitu komunitas intelijen saya salah. Siapa yang bilang begitu?” kata Trump saat ditanya wartawan soal dasar klaimnya. Ketika dijawab bahwa Gabbard adalah sumbernya, Trump menegaskan, “Dia salah.”
Pernyataan tersebut memperuncing ketegangan antara Gedung Putih dan lembaga intelijen AS yang sebelumnya secara konsisten menyatakan tidak ada bukti bahwa Iran telah menghidupkan kembali program senjata nuklir yang sempat dihentikan.
Meski demikian, Tulsi Gabbard yang juga mantan anggota Kongres dari Partai Demokrat, kemudian mengeluarkan pernyataan yang tampaknya membela Trump. Dalam unggahan di media sosial, ia menulis:
“Amerika memiliki intelijen bahwa Iran bisa memproduksi senjata nuklir dalam hitungan minggu atau bulan jika mereka memutuskan untuk menyelesaikan perakitannya. Presiden Trump jelas mengatakan bahwa hal itu tidak boleh terjadi, dan saya setuju.”
Namun, pernyataan tersebut tidak serta merta membatalkan laporan sebelumnya, karena tetap menyiratkan bahwa Iran belum secara aktif merakit senjata tersebut.
Menurut analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara, sikap Trump dianggap melampaui batas kewajaran.
“Ini bukan cuma satu orang atau satu tim. Ini seluruh komunitas intelijen Amerika Serikat. Fakta bahwa Trump bisa menolaknya begitu saja sungguh mengejutkan,” ujarnya.
Trump juga memberikan sinyal bahwa AS kemungkinan tidak akan mendorong gencatan senjata antara Israel dan Iran dalam waktu dekat. Ia menyatakan bahwa Israel “sedang unggul dalam perang”, dan menyebut terlalu sulit meminta pihak yang sedang menang untuk menghentikan serangan.
Jurnalis Al Jazeera dari Washington DC, Heidi Zhou Castro, mencatat bahwa Trump tampaknya mengambil posisi tegas memihak Israel.
“Trump tidak menunjukkan minat besar pada jalur diplomatik, meski ia memberi waktu dua minggu sebelum mengambil keputusan akhir,” lapornya.
Sementara itu, publk menanti keputusan Trump yang dinilai akan sangat menentukan arah konflik regional. Para ahli memperingatkan bahwa keputusan AS, terutama jika melibatkan kekuatan militer seperti pembom B-2 dan bom GBU-57, bisa menjadi pemicu perang besar di Timur Tengah.
Ketika ditanya soal upaya diplomatik Eropa pascapertemuan Menlu Iran Abbas Araghchi dengan diplomat dari Prancis, Jerman, Inggris, dan Uni Eropa di Jenewa, Trump menjawab datar:
“Eropa tidak akan bisa membantu.”
Dengan sikap Trump yang terus membangkang terhadap bukti intelijen, serta condong mendukung pendekatan militer, dunia menghadapi ketidakpastian besar mengenai masa depan stabilitas di Timur Tengah.
Baca Juga: Eropa dan Iran Bertemu di Tengah Perang: Ada Harapan Dialog, Tanpa Terobosan Nyata
Editor: Redaktur TVRINews
