Writer: Fityan
TVRINews, New york
Ribuan Warga dari New York hingga San Francisco Gelar Aksi Serentak Kecam Deportasi, Pembungkaman Demokrasi, dan Ancaman 'Negara Polisi' di Era Trump.
Amerika Serikat kembali diguncang gelombang demonstrasi massal. Sabtu (19/4/), ribuan warga dari berbagai kota besar mulai dari New York, Washington DC, hingga San Francisco turun ke jalan menyuarakan keprihatinan mereka terhadap arah pemerintahan Presiden Donald Trump. Aksi ini digelar sebagai respons terhadap apa yang mereka nilai sebagai ancaman serius terhadap nilai-nilai demokrasi dan kebebasan sipil.
Dari pawai di tengah hiruk-pikuk Manhattan, unjuk rasa di depan Gedung Putih, hingga protes simbolik di peringatan 250 tahun Perang Revolusi di Massachusetts, publik Amerika menunjukkan solidaritas yang kuat dalam menolak kebijakan yang dinilai menindas.
Di luar Boston, tepatnya di lokasi peringatan Pertempuran Lexington dan Concord, Thomas Bassford, seorang pensiunan tukang batu berusia 80 tahun dari Maine, hadir bersama keluarga. Ia ingin cucu-cucunya belajar tentang sejarah bangsa—dan pentingnya mempertahankan kebebasan.
"Ini masa yang sangat berbahaya bagi kebebasan di Amerika," ujar Bassford. "Kita sedang diserang oleh pemerintah kita sendiri. Terkadang kita harus berjuang demi kebebasan."
Di Denver, ratusan orang berkumpul di Gedung Capitol Colorado sambil mengibarkan bendera AS—beberapa dibalik sebagai simbol darurat nasional. Poster-poster bertuliskan “Hands Off!” dan dukungan terhadap imigran mendominasi.
San Francisco juga menjadi panggung protes unik. Di atas pasir pantai Pasifik, ratusan orang membentuk tulisan “Impeach & Remove” sebagai pesan simbolik agar Trump segera dicopot. Aksi serupa juga berlangsung di Portland, Oregon, dan Columbia, South Carolina.
Protes bahkan menyasar miliarder Elon Musk, penasihat Trump, dengan aksi di depan diler Tesla, mengecam peranannya dalam pemangkasan birokrasi. Beberapa komunitas justru mengemas protes dengan kegiatan sosial: penggalangan makanan, seminar edukatif, dan relawan di penampungan.
Aksi ini muncul hanya dua pekan setelah demonstrasi nasional serupa, menandakan gelombang kekecewaan publik yang terus meningkat. Para penyelenggara menyebut protes ini sebagai bentuk perlawanan terhadap pelanggaran konstitusi dan hak-hak sipil oleh pemerintahan Trump, termasuk deportasi besar-besaran, pemangkasan pegawai negeri, hingga pembubaran lembaga-lembaga penting.
Beberapa pengunjuk rasa mengusung semangat Revolusi Amerika, menolak bentuk "raja baru" dan menyerukan perlawanan terhadap tirani. George Bryant, warga Boston yang ikut berdemo di Concord, membawa papan bertuliskan “Trump fascist regime must go now!” (Rezim fasis Trump harus pergi sekarang!).
"Dia menentang pengadilan, menculik pelajar, dan menghancurkan sistem check and balance," katanya. "Ini adalah fasisme."
Di Washington DC, Bob Fasick (76), pensiunan pegawai federal dari Springfield, Virginia, turut serta di aksi dekat Gedung Putih. Ia khawatir terhadap ancaman pemangkasan hak jaminan sosial, layanan kesehatan, serta perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk transgender.
"Saya tak bisa tinggal diam," ujarnya. "Jika kita semua tidak bertindak, dunia yang kita wariskan untuk anak-anak dan tetangga kita bukan dunia yang layak dihuni."
Sementara itu, di New York, massa memadati jalur dari Perpustakaan Umum hingga Central Park, melintasi Trump Tower. Teriakan “No fear, no hate, no ICE in our state” menggema diiringi dentuman genderang protes terhadap deportasi.
Marshall Green, warga Morristown, New Jersey, menyebut penggunaan Alien Enemies Act oleh Trump sebagai tindakan berbahaya, terutama saat ia mengklaim AS sedang “berperang” dengan geng Venezuela, meski laporan intelijen tak menemukan bukti koordinasi apa pun.
"Kongres seharusnya bersuara dan berkata: kita tidak sedang perang. Semua orang berhak atas proses hukum, tak peduli status mereka," tegas Green.
Di sisi lain, Melinda Charles dari Connecticut menyoroti apa yang ia sebut sebagai “eksekutif yang melampaui batas.” Menurutnya, kekuatan cabang eksekutif kini terlalu besar dan mengancam keseimbangan konstitusi.
"Kita seharusnya punya tiga cabang kekuasaan yang setara," katanya. "Tapi sekarang, presiden seperti mengendalikan semuanya. Ini tidak masuk akal."
Aksi-aksi ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, tapi refleksi dari kegelisahan yang mendalam atas kondisi demokrasi di Amerika. Para demonstran dari berbagai latar belakang sosial, usia, dan ras, bersatu dalam satu pesan: demokrasi harus dijaga. Dan hari itu, jalanan Amerika menjadi saksi, bahwa suara rakyat belum padam.
Editor: Redaktur TVRINews
