TVRINews – Washington
Bukan Sekadar Perubahan, Ini Revolusi! Direktur USCIS Ungkap Rencana Sensasional yang Guncang Pondasi Sistem Imigrasi AS, Siapakah yang Diuntungkan dan Siapa yang Merugi?
Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump bersiap menghadapi gelombang perubahan drastis dalam sistem imigrasi legalnya. Joseph Edlow, Direktur baru United States Citizenship and Immigration Service (USCIS), baru-baru ini membuat pernyataan mengejutkan yang mengindikasikan reformasi besar, termasuk mempersulit tes kewarganegaraan AS dan merombak total visa kerja H-1B.
Dalam wawancaranya dengan The New York Times, Edlow secara terang-terangan menyatakan bahwa tes kewarganegaraan AS saat ini "terlalu mudah" dan membuka celah bagi para imigran untuk sekadar menghafal jawaban tanpa benar-benar memahami semangat hukum. Menurutnya, tes yang ada tidak
lagi sejalan dengan tujuan awal pembentukannya. Ini bukan kali pertama tes tersebut dirombak; pada masa pemerintahan Trump sebelumnya, jumlah pertanyaan dan jawaban yang benar sempat diperbanyak sebelum akhirnya dikembalikan oleh administrasi Biden.
Tak berhenti di situ, perhatian Edlow juga tertuju pada visa kerja H-1B, yang telah lama menjadi pusat perdebatan panas. Visa ini, yang seringkali dikritik karena dugaan penyalahgunaannya oleh perusahaan yang mengutamakan pekerja asing bergaji rendah dibandingkan karyawan lokal, akan mengalami "penyesuaian" signifikan. Edlow menekankan bahwa visa H-1B seharusnya berfungsi sebagai "pelengkap, bukan pengganti" bagi ekonomi, bisnis, dan pekerja AS.
Pernyataan ini sejalan dengan bocoran informasi dari Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang mengindikasikan perubahan sistem lotere visa H-1B menjadi "proses seleksi berbobot." Sistem baru ini akan memprioritaskan perusahaan yang menawarkan gaji lebih tinggi, sebuah langkah yang didukung oleh berbagai pihak, termasuk Institute for Progress yang non-partisan, yang berargumen bahwa nilai ekonomi program visa dapat meningkat hingga 88 persen jika pelamar dievaluasi berdasarkan senioritas atau gaji.
Meskipun narasi "America-first" dan keinginan untuk memangkas imigrasi kuat di kalangan pendukung MAGA, Edlow memperjelas bahwa imigrasi dapat memberikan manfaat besar bagi AS jika dikelola dengan benar. Namun, rencana ini tidak luput dari kritik. David Bier, direktur studi imigrasi di Cato Institute, berpendapat bahwa membatasi visa H-1B hanya untuk penawaran gaji tertinggi akan merugikan lulusan perguruan tinggi dan menghilangkan jalur utama bagi mereka untuk tetap tinggal di Amerika. Ia bahkan menyindir bahwa tes kewarganegaraan yang disebut mudah itu sebenarnya akan banyak gagal jika diujikan pada sebagian besar warga Amerika sendiri.
Lantas, apa selanjutnya? Perlu diingat, USCIS tidak dapat mengubah cara mengeluarkan visa atau menjalankan tes kewarganegaraan tanpa izin dari lembaga lain atau bahkan Kongres. Hal ini menunjukkan bahwa reformasi yang diusulkan oleh Edlow kemungkinan besar akan memicu perdebatan sengit di Capitol Hill, tempat para pembuat undang-undang sudah mengusulkan perubahan bipartisan terhadap sistem imigrasi secara keseluruhan. Masa depan imigrasi di AS agaknya akan semakin kompleks dan penuh tantangan.
Editor : Redaksi TVRINews










