TVRINews – Vientiane, Laos
Kondisi Goa Tidak Stabil, Tim Penyelamat Internasional Tarik Diri demi Keselamatan
Upaya pencarian terhadap dua pria yang terjebak di dalam gua yang terendam banjir di Laos resmi dihentikan pada Sabtu 6 Juni 2026, setelah struktur gua dinyatakan tidak stabil, yang sekaligus mengikis harapan adanya korban yang selamat setelah lebih dari dua pekan terjebak di bawah tanah.
Peristiwa ini bermula pada 20 Mei lalu, ketika tujuh orang warga lokal memasuki kawasan gua di Provinsi Xaysomboun untuk berburu kelelawar dan mencari emas di bekas area pertambangan. Namun, banjir bandang yang datang tiba-tiba menutup akses keluar mereka.
Sepekan setelah insiden, tim penyelamat berhasil menemukan lima korban dalam kondisi hidup di celah sempit sekitar 300 meter dari mulut gua.
Proses evakuasi berlangsung dramatis; satu korban berhasil dikeluarkan oleh penyelam pada 29 May, sementara empat lainnya dievakuasi keesokan harinya setelah volume air di dalam gua berhasil dikurangi dengan pompa. Kendati demikian, dua korban lainnya tetap dinyatakan hilang di tengah operasi pencarian intensif yang melibatkan tim domestik dan internasional.
Risiko Tinggi dan Ancaman Cuaca Buruk
Lee Kian Lie, seorang penyelam gua asal Malaysia yang bergabung dalam misi sejak 28 Mei, mengonfirmasi kepada kantor berita AFP bahwa operasi penyelamatan telah mencapai titik akhir. Menurutnya, potensi bahaya yang mengancam tim penyelamat kini jauh lebih besar ketimbang peluang tipis untuk menemukan korban dalam keadaan hidup.
"Kami sudah sangat dekat. Kondisi air sebenarnya mulai bisa dikendalikan, tetapi langit-langit di pintu masuk gua mulai tidak stabil," ujar Lee. "Melanjutkan operasi ini mengandung risiko yang sangat tinggi. Tim akan tetap mempompa air dan menggali titik-titik aliran agar air keluar lebih cepat. Mungkin mukjizat bisa terjadi."Dikutip AFP Minggu 7 Juni 2026.
Lee juga merefleksikan bahwa misi ini merupakan operasi paling berbahaya yang pernah ia alami sepanjang kariernya, mengingat tim harus bertaruh nyawa menghadapi banjir susulan, struktur batuan yang rapuh, ruang gerak yang sangat sempit, serta minimnya pasokan oksigen.
"Semua orang sudah berupaya maksimal. Kami sudah mencoba. Saya turut berdukacita yang mendalam bagi pihak keluarga," tambahnya.
Strategi Berubah ke Luar Gua
Senada dengan Lee, pemimpin tim penyelamat asal Thailand, Kengkad Bongkawong, menegaskan melalui unggahan resminya di media sosial bahwa area dalam gua kini telah ditutup total dari aktivitas manusia.
"Tidak ada lagi yang diizinkan masuk ke dalam gua karena situasinya terlalu berisiko. Namun, operasi penyedotan air di bagian luar akan tetap berjalan," tulis Kengkad di laman Facebook-nya.
Ia menambahkan bahwa menurunkan debit air merupakan opsi paling rasional saat ini untuk membuka peluang sekecil apa pun bagi korban yang hilang.
"Kami masih menyisakan jatah makanan dan perlengkapan bertahan hidup di beberapa titik di dalam gua. Jika mukjizat itu ada, kami berharap keahlian mereka (memahami medan) dapat menuntun mereka keluar dengan selamat," kata Kengkad.
Tantangan alam kian diperparah oleh faktor cuaca. Kengkad sebelumnya menjelaskan bahwa curah hujan yang tinggi sempat memangkas ruang vertikal di dalam gua hingga tersisa 30 sentimeter setengah dari ruang kerja tim pada fase awal evakuasi. "Mulai hari ini dan seterusnya, intensitas hujan diprediksi akan semakin lebat," peringatnya.
Seiring dengan dihentikannya fase penyelamatan taktis di dalam gua, sejumlah spesialis selam gua internasional, termasuk Mikko Paasi dari Finlandia dan Yoshitaka Isaji dari Jepang, dilaporkan telah meninggalkan lokasi kejadian sejak Jumat lalu. Berdasarkan kesaksian lima korban selamat, kedua pria yang masih hilang tersebut memang memasuki area gua secara terpisah sebelum bencana banjir melanda.










