TVRINews, Washington
Militer Amerika Serikat melancarkan serangan presisi terhadap sistem radar Iran sebagai respons terukur atas insiden jatuhnya helikopter Apache di Selat Hormuz.
Militer Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas di Iran Selasa 9 Juni 2026. Operasi ini merupakan langkah balasan setelah Presiden Donald Trump menuding Teheran bertanggung jawab atas jatuhnya sebuah helikopter militer AS di wilayah udara Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi bahwa gempuran dari pasukan Amerika dimulai pada Selasa pukul 17:00 EST. Berdasarkan laporan situs berita Axios, serangan tersebut secara spesifik menargetkan sistem pertahanan udara dan fasilitas radar milik Iran.
Media pemerintah Iran turut melaporkan adanya suara ledakan beruntun yang terdengar di sepanjang garis pantai Teluk Persia, mencakup wilayah Bandar Abbas, Qeshm, dan Sirik. Kantor Berita Mehr yang berafiliasi dengan pemerintah menyampaikan bahwa hingga saat ini, Teheran belum secara resmi mengklaim tanggung jawab atas jatuhnya pesawat militer AS tersebut.
Operasi Penyelamatan Nirawak
Terkait insiden helikopter, Centcom mengungkapkan bahwa dua awak helikopter serang Apache yang jatuh pada Senin malam berhasil diselamatkan menggunakan kapal nirawak (drone laut) Amerika.
Ini merupakan momen perdana militer AS mengonfirmasi secara publik penggunaan armada maritim otonom dalam operasi penyelamatan kritis.
"Misi (serangan) ini adalah respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan," tegas perwakilan Centcom dalam pernyataan resminya.
Melalui platform Truth Social, Presiden Trump memastikan kondisi para kru. "Ada dua pilot yang terlibat, keduanya aman dan tidak terluka. Kendati demikian, Amerika Serikat tentu harus merespons serangan ini," tulisnya.
Dalam wawancara terpisah bersama ABC News, Trump kembali menegaskan posisi Washington. "Saya percaya tanggapannya harus sangat kuat, sangat bertenaga, dan itulah yang (terjadi) saat ini," ujarnya.
Ketua DPR AS dari Partai Republik, Mike Johnson, yang berada di ruangan bersama Presiden saat keputusan serangan diambil, menyatakan dukungannya. Ia menyebut langkah tersebut sebagai sebuah kebutuhan operasional untuk menyelesaikan masalah keamanan.
Eskalasi di Tengah Diplomasi
Langkah Washington segera memicu reaksi keras dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam.
"Meskipun kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami. Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin aman," tulis Araghchi melalui platform X.
Peringatan serupa datang dari Mohammad Baqer Qalibaf, negosiator utama Iran. Ia menegaskan bahwa Teheran lebih memilih bahasa diplomasi, namun siap menggunakan metode lain jika Washington melanggar komitmennya.
Berdasarkan keterangan seorang pejabat AS kepada mitra BBC, CBS News, Iran diketahui menggunakan pesawat nirawak dalam insiden di Selat Hormuz. Namun, belum dapat dipastikan apakah armada udara Iran tersebut secara sengaja menargetkan helikopter Apache.
Ketegangan terbaru ini mencuat di tengah upaya mediasi kawasan. Sebelumnya, Presiden Trump telah mendesak Israel dan Iran untuk menghentikan kontak senjata guna menyelamatkan kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan.
Trump bahkan sempat menyatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan regional tersebut bisa rampung dalam hitungan hari, yang akan diikuti dengan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz secara penuh.
Sementara itu, operasi penyelamatan heroik kru Apache dipimpin oleh Pasukan Angkatan Laut AS dan Divisi Lintas Udara ke-82. Juru bicara Centcom menjelaskan kepada BBC bahwa evakuasi dilakukan oleh Satuan Tugas 59 yang berbasis di Bahrain.
Drone laut tersebut mengamankan para prajurit dan membawa mereka ke titik aman di perairan, sebelum akhirnya diangkat menggunakan helikopter evakuasi untuk penanganan lebih lanjut.








