
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tampil di depan publik untuk pertama kalinya sejak perang dengan Israel. ( Foto: Anadolu. )
Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran,Iran
Setelah absen berminggu-minggu sejak pecahnya perang dengan Israel, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei muncul di depan publik dalam acara keagamaan di Teheran, memicu spekulasi dan perhatian global.
Setelah berminggu-minggu tak terlihat di hadapan publik sejak meletusnya perang Iran-Israel yang menewaskan lebih dari 900 warga Iran, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya muncul untuk pertama kalinya dalam sebuah acara keagamaan di Masjid Imam Khomeini, Teheran, Sabtu (5/7).
Dalam siaran langsung televisi pemerintah Iran, pria berusia 86 tahun itu tampak mengenakan jubah hitam, berdiri di atas panggung disambut sorak-sorai jamaah. Para hadirin meneriakkan yel-yel dukungan, “Darah kami untuk pemimpin kami!”, sambil mengepalkan tangan ke udara dalam suasana penuh emosional untuk memperingati hari Asyura, peringatan syahidnya Imam Hussein.
Kemunculan Khamenei menjadi sorotan penting, mengingat ketidakhadirannya sejak sebelum serangan udara mendadak Israel ke tiga fasilitas nuklir Iran pada 13 Juni lalu. Sebelumnya, ia hanya sempat tampil melalui rekaman video pekan lalu tanpa kehadiran fisik.
Perang singkat berdurasi 12 hari tersebut telah memicu kekhawatiran global terkait eskalasi di Timur Tengah. Serangan Israel, yang diklaim sebagai upaya untuk menghentikan program nuklir Iran, telah menewaskan ratusan warga sipil dan memicu balasan dari Teheran melalui serangan rudal ke kota-kota Israel yang menewaskan sedikitnya 28 orang.
Mantan Presiden AS Donald Trump sempat mengklaim bahwa serangan AS yang menyasar fasilitas nuklir Iran telah “menghancurkan” kapabilitas nuklir negara itu. Namun, pernyataan tersebut dipatahkan oleh Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi.
“Secara terus terang, tidak bisa dikatakan semuanya telah lenyap,” kata Grossi dalam wawancara dengan CBS News. “Iran masih memiliki kapasitas industri dan teknologi yang memungkinkan mereka memutar kembali sentrifugal dan memproduksi uranium dalam hitungan bulan.”
Laporan intelijen awal AS yang dikutip Reuters juga menyimpulkan bahwa kerusakan pada program nuklir Iran kemungkinan hanya memperlambat kemajuan mereka selama satu hingga dua bulan.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Presiden Prabowo Tampil Perdana di BRICS, Siap Buka Suara untuk Dunia
Editor: Redaksi TVRINews
