TVRINews – Washington DC
Gedung Putih menangguhkan operasi militer terhadap Teheran setelah tercapainya parameter kunci perdamaian dan pembukaan Selat Hormuz, meski kawasan Teluk tetap dalam bayang-bayang siaga tinggi.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan menginstruksikan angkatan bersenjatanya untuk menangguhkan gelombang serangan baru terhadap Iran. setelah para sekutu di kawasan Timur Tengah diklaim berhasil menyepakati parameter utama untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama lima bulan.
Kerangka kesepakatan yang tengah dirintis tersebut mencakup pembukaan secara penuh dan menyeluruh di Selat Hormuz serta penyelesaian tuntas atas ancaman nuklir Iran.
"Berdasarkan permintaan ini, saya telah sepakat untuk membatalkan serangan tersebut demi kepentingan global di masa depan serta kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, dengan catatan kesepakatan ini dapat segera direalisasikan," ujar Trump melalui pernyataan resminya pada Sabtu 1 Agustus 2026 malam waktu setempat.
Ia menambahkan, Israel turut menyatakan komitmen serupa untuk bergabung dengan Amerika Serikat guna merampungkan perjanjian damai tersebut. Kendati demikian, hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang di Teheran belum memberikan tanggapan resmi secara terbuka.
Pengumuman ini menandai dinamika baru yang cukup signifikan dalam eskalasi konflik. Sehari sebelumnya, Washington sempat mengisyaratkan kesiapan melancarkan serangan udara berskala besar guna memaksa Teheran kembali ke meja perundingan.
Konflik bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan pada 28 Februari lalu. Saat itu, pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa operasi militer bertujuan untuk melumpuhkan kapasitas rudal Iran, mencegah kepemilikan senjata nuklir, serta menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok militan sekutunya di kawasan.
Namun dalam perjalanannya, target dan linimasa konflik kerap berubah, termasuk upaya gencatan senjata pada pertengahan Juni lalu yang gagal bertahan lama.
Kekhawatiran Riyadh atas Eskalasi
Sebelum pengumuman tersebut dirilis, dinamika diplomatik intensif terjadi di balik layar. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman sempat melakukan pembicaraan telepon dengan Presiden Trump pada Sabtu 1 Agustus.
Menurut sumber yang mengetahui substansi pembicaraan dan meminta identitasnya dirahasiakan, pemimpin de facto Arab Saudi tersebut menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai potensi eskalasi militer lanjutan. Riyadh khawatir Teheran akan melancarkan serangan balasan yang menargetkan infrastruktur energi strategis di Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya.
Putra mahkota dilaporkan meminta kejelasan langsung dari Washington terkait langkah militer yang tengah dipertimbangkan terhadap Iran. Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi adanya komunikasi telepon antara kedua pemimpin pada hari Sabtu, namun enggan memberikan rincian lebih lanjut.
Selama konflik berlangsung, kawasan perairan Selat Hormuz kerap menjadi titik rawan menyusul insiden penyerangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas tanpa izin dari otoritas Iran.
Siaga Perjalanan Regional
Sebagai langkah antisipasi terhadap perkembangan situasi, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada hari Sabtu mengeluarkan peringatan keamanan baru.
Warga negara Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah diimbau untuk bersiap menghadapi potensi pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara sementara, serta gangguan perjalanan lainnya.
Peringatan keamanan tersebut mencakup sejumlah negara di kawasan, yakni Bahrain, Israel, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.









