
Foto : BBC News
Penulis: Fityan
TVRINews – Roma
Persaingan Global Menuju Vatikan: Dari Asia hingga Afrika, Kandidat Paus Baru Menantang Dominasi Eropa dalam Pemilihan Paling Tidak Terduga Abad Ini
Siapa yang akan menjadi Paus berikutnya? Pertanyaan ini kembali mengemuka seiring kabar bahwa Takhta Suci akan segera menghadapi momen besar: memilih pemimpin baru bagi 1,4 miliar umat Katolik Roma di seluruh dunia. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini prosesnya diprediksi sangat terbuka dan sulit ditebak.
Pemilihan Paus dilakukan melalui konklaf , pertemuan tertutup para kardinal Gereja Katolik di Kapel Sistina, Vatikan. Mereka akan berdoa, berdiskusi, dan memberikan suara sampai hanya satu nama yang tersisa. Tapi konklaf kali ini istimewa.
Sekitar 80 persen dari para kardinal yang akan memilih adalah orang-orang yang diangkat oleh Paus Fransiskus sendiri. Ini berarti, mereka adalah representasi dari Gereja yang lebih global, bukan lagi berpusat di Eropa. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah kardinal non-Eropa melampaui yang berasal dari Benua Biru.
Yang menarik, para kardinal ini bukan kelompok yang homogen. Mereka tidak dapat dikelompokkan hanya sebagai ‘progresif’ atau ‘konservatif’. Inilah yang membuat hasil pemilihan menjadi sangat tak terduga. Lalu, siapa saja yang disebut-sebut sebagai kandidat kuat? Berikut ulasan lengkapnya:
Kandidat-Kandidat Paus Berikutnya :
1. Pietro Parolin (Italia, 70 tahun)
Mantan Sekretaris Negara Vatikan ini adalah orang dekat Paus Fransiskus dan kerap disebut sebagai "wakil paus". Pendekatannya yang lebih diplomatis dan pandangan global menjadi kekuatan, meskipun sebagian kalangan mengkritiknya karena kurang menonjolkan doktrin gereja. Pernah menyebut legalisasi pernikahan sesama jenis sebagai "kekalahan bagi kemanusiaan".
2. Luis Antonio Tagle (Filipina, 67 tahun)
Disebut sebagai "Fransiskus dari Asia", Kardinal Tagle dikenal karena pendekatannya yang penuh empati terhadap migran dan kaum miskin. Dikenal sebagai sosok moderat, ia pernah menyerukan Gereja untuk bersikap lebih lembut terhadap kaum LGBT dan ibu tunggal. Populer di kalangan umat Asia, ia juga didukung oleh kekuatan besar Gereja di Filipina.
3. Fridolin Ambongo Besungu (Kongo, 65 tahun)
Kardinal asal Afrika Tengah ini dikenal lantang membela Gereja di tengah kekacauan dan kekerasan di negaranya. Secara teologis konservatif, ia menentang pemberkatan pasangan sesama jenis dan sangat menjunjung nilai budaya lokal. Namun ia juga mendukung keberagaman agama dan kerja sama lintas iman.
4. Peter Kodwo Appiah Turkson (Ghana, 76 tahun)
Energik dan karismatik, Kardinal Turkson adalah tokoh penting dalam lingkungan Vatikan. Ia menolak kriminalisasi kaum LGBTQ+ di Afrika, meskipun bersikap konservatif dalam hal keluarga. Pernah menjadi kandidat kuat pada konklaf 2013 dan dikenal karena pendekatannya yang humanis dan terbuka.
5.Peter Erdo (Hungaria, 72 tahun)
Kardinal konservatif dari Eropa Timur yang memiliki rekam jejak kuat dalam hubungan ekumenis dan konservatisme moral. Ia dikenal sebagai pemimpin Gereja yang tenang dan strategis. Meski berasal dari Eropa, ia memiliki jaringan kuat dengan Gereja Afrika.
6. Angelo Scola (Italia, 83 tahun)
Meski usianya melewati batas pemilih konklaf (80 tahun), namanya kembali disebut karena hubungan dekatnya dengan Paus Fransiskus. Namun usianya dan fokusnya pada isu lansia bisa menjadi kendala besar.
7. Reinhard Marx (Jerman, 71 tahun)
Salah satu penasihat utama Paus Fransiskus selama satu dekade, Kardinal Marx dikenal pro-reformasi dan mendukung keterbukaan terhadap kaum LGBT. Pernah mengajukan pengunduran diri karena kasus pelecehan di Gereja Jerman, namun ditolak oleh Paus. Kini posisinya dianggap melemah.
8. Marc Ouellet (Kanada, 80 tahun)
Meski tidak lagi memiliki hak suara, Kardinal Ouellet tetap disebut karena pengaruhnya dalam menunjuk para uskup di seluruh dunia. Ia konservatif namun modern, mendukung peran perempuan dalam Gereja, tapi menolak penahbisan imam perempuan.
9. Robert Prevost (Amerika Serikat, 69 tahun)
Mantan misionaris di Peru yang kini menjabat sebagai kepala Dikasteri untuk Uskup di Vatikan. Ia juga memimpin Komisi Kepausan untuk Amerika Latin. Dikenal sebagai reformis dan memiliki pengalaman internasional yang luas.
Dengan begitu banyaknya pilihan dari berbagai benua dan latar belakang, konklaf kali ini bisa menorehkan sejarah besar: paus pertama dari Asia atau Afrika dalam era modern. Atau justru kembali ke akar Eropa yang selama berabad-abad menjadi pusat kekuasaan Gereja?
Satu hal yang pasti: hasil konklaf ini akan membentuk wajah Gereja Katolik dalam dekade-dekade mendatang. Dan seluruh dunia menunggu.
Baca Juga: Malam Hening di Vatikan: Peti Jenazah Paus Fransiskus Resmi Ditutup di Basilika Santo Petrus
Editor: Redaktur TVRINews
