TVRINews – Paris
Sepuluh negara Eropa resmi membentuk koalisi pertahanan untuk menangkal ancaman rudal balistik, memanfaatkan pengalaman tempur Ukraina di garis depan.
Sepuluh negara Eropa, termasuk Inggris, Jerman, dan Prancis, sepakat menjalin kerja sama strategis untuk membangun arsitektur pertahanan anti-rudal balistik terintegrasi guna melindungi kawasan dari ancaman serangan udara, sebagai respons atas meningkatnya risiko keamanan di benua tersebut, dengan menjadikan pengalaman Ukraina selama empat tahun menghadapi invasi Rusia sebagai fondasi utama pengembangan teknologi pertahanan.
Kesepakatan tersebut diumumkan pada Senin 13 juli 2026 di Paris, bertepatan dengan pertemuan antara Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, dengan para pemimpin Eropa. Selain tiga negara besar tersebut, koalisi ini melibatkan Denmark, Italia, Belanda, Swedia, Norwegia, dan Spanyol.
"Tujuan kami adalah membangun kapabilitas pertahanan rudal balistik bersama untuk Eropa," demikian pernyataan resmi koalisi tersebut.
Menurut para ahli, rudal balistik menghadirkan tantangan keamanan yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan rudal jelajah atau pesawat nirawak (drone), sehingga memerlukan sistem deteksi dan netralisasi yang jauh lebih canggih.
Dalam pertemuan tersebut, Zelenskyy menekankan urgensi penguatan pertahanan udara Ukraina sebelum musim dingin tiba masa di mana Rusia kerap meningkatkan intensitas serangan terhadap infrastruktur energi, pemanas, dan pasokan air.
Sinergi Ekonomi dan Pertahanan
Di sisi lain, Inggris menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam skema pinjaman dukungan Uni Eropa senilai €90 miliar (setara £77 miliar) bagi Ukraina. Langkah ini memungkinkan perusahaan pertahanan Inggris untuk terlibat aktif dalam pengadaan senjata yang didanai oleh skema tersebut.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan bahwa keterlibatan ini merupakan langkah krusial. "Perjanjian ini akan membantu memastikan Ukraina mendapatkan dukungan yang diperlukan untuk mempertahankan diri dari agresi Rusia, sekaligus mendukung perusahaan pertahanan Inggris, menciptakan lapangan kerja terampil, dan memperkuat keamanan nasional kita," ujar Starmer dalam pernyataan resminya.
Pemerintah London dan Brussels menyatakan bahwa Inggris akan memberikan kontribusi biaya yang proporsional sesuai dengan nilai kontrak yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan Inggris.
*Peringatan akan Nasionalisme Pertahanan*
Di tengah upaya konsolidasi ini, Presiden Prancis Emmanuel Macron memberikan peringatan keras terkait kebijakan pertahanan nasional yang bersifat soliter atau "sendiri-sendiri". Macron menyoroti perlunya integrasi industri pertahanan Eropa, terutama setelah gagalnya proyek pengembangan jet tempur generasi baru antara Prancis dan Jerman akibat rivalitas industri.
"Setiap kali kita menciptakan fragmentasi, kita mungkin merasa baik saat ini, tetapi kita sedang menciptakan keterlambatan di masa depan," ujar Macron dalam pidato tahunannya di hadapan angkatan bersenjata Prancis. "Patriotisme, ya; nasionalisme, tidak pernah."
Sebagai bagian dari komitmen keamanan jangka panjang, Macron juga mengumumkan rencana latihan militer bagi Pasukan Multinasional untuk Ukraina.
Latihan ini dirancang sebagai bentuk kesiapsiagaan jika sewaktu-waktu terjadi gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia, guna memvalidasi rencana penyebaran pasukan yang kredibel dan terukur.
Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti mengenai batas waktu penyelesaian program pertahanan anti-rudal balistik tersebut. Namun, pertemuan di Paris menandai titik balik penting dalam kolaborasi pertahanan Eropa yang kini mulai mengintegrasikan pelajaran berharga dari medan perang di Ukraina ke dalam strategi keamanan kontinental yang lebih luas.










