TVRINews – Gaza
Kesepakatan gencatan senjata kian terabaikan di lapangan.
Situasi di Jalur Gaza kembali memanas setelah serangkaian serangan militer Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya tiga warga Palestina dan melukai 15 orang lainnya pada Senin 14 Juli 2026. Insiden ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang disepakati sejak Oktober tahun lalu.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari sumber medis dan agensi berita Anadolu, salah satu korban jiwa diidentifikasi sebagai Osama Naim Shamlakh (28). Ia tewas dalam serangan pesawat nirawak (drone) yang menargetkan sepeda motor di lingkungan Tal al-Hawa, Gaza City bagian selatan. Serangan tersebut turut melukai sembilan warga sipil lainnya akibat hantaman dua rudal.
Serangan terpisah juga dilaporkan terjadi di pos polisi dekat bundaran at-Twam, barat laut Gaza City. Insiden tersebut melukai empat petugas kepolisian, dengan satu di antaranya, Thaer Ramzi Fayyad (36), dilaporkan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat luka yang dideritanya. Hingga saat ini, identitas korban jiwa ketiga masih dalam proses verifikasi pihak berwenang.
Kekerasan tidak berhenti di situ. Di wilayah selatan, sebuah serangan udara Israel menyasar tenda penampungan warga pengungsi di kawasan al-Mawasi, Khan Younis. Para korban luka segera dilarikan ke Rumah Sakit Nasser untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, serangan terhadap sebuah kendaraan di Jalan al-Rashid, az-Zawayda, mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan luka-luka yang kemudian dievakuasi ke Rumah Sakit Al-Aqsa Martyrs di Deir el-Balah.
Selain serangan udara, aktivitas militer Israel juga dilaporkan melalui tembakan dari kendaraan lapis baja ke arah pemukiman di sebelah timur kamp pengungsi Bureij dan dekat kamp pengungsian Halawa di Jabalia timur, meski belum ada laporan mengenai korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Perluasan Wilayah Kendali Militer
Di tengah rangkaian serangan tersebut, militer Israel terpantau memperluas wilayah kendali mereka di dalam teritori Gaza. Observasi di lapangan menunjukkan pergerakan blok beton penanda batas wilayah hingga berjarak 200 meter dari Jalan Salah al-Din, jalur utama yang menghubungkan sisi utara dan selatan Gaza, tepatnya di lingkungan Shujayea. Langkah ini memicu kekhawatiran mendalam mengenai keselamatan warga sipil yang melintasi jalur vital tersebut.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel sejak Oktober 2023 telah merenggut nyawa 1.108 orang dan menyebabkan 3.578 warga lainnya mengalami luka-luka. Secara keseluruhan, konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023 telah menelan korban jiwa lebih dari 73.000 warga Palestina.
Ketegangan berpusat pada pergeseran garis demarkasi yang dikenal sebagai "Garis Kuning". Kendati Israel menyatakan bahwa wilayah tersebut mencakup sekitar 58 persen dari total luas Jalur Gaza, perluasan secara bertahap yang dilakukan militer telah membatasi ruang gerak warga.
Penduduk setempat melaporkan bahwa siapa pun yang berada di dekat garis demarkasi tersebut berisiko tinggi menjadi sasaran tembakan militer, meskipun garis tersebut kerap berubah posisi seiring berjalannya waktu.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak militer Israel terkait detail operasional terbaru di lapangan. Situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk di tengah ketidakpastian gencatan senjata yang semakin sulit dipertahankan.










