
Foto : The Guardian
Penulis: Fityan
TVRINews – Vatikan
Dari ‘Ruang Air Mata’ hingga Asap Putih: Inilah Ritus Rahasia di Balik Pemilihan Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik
Di balik dinding tebal dan lukisan-lukisan megah Kapel Sistina, berlangsung sebuah proses sakral yang jarang diketahui secara detail oleh dunia luar: konklaf, pemilihan Paus baru yang akan memimpin lebih dari satu miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Proses pemilihan Paus yang akan menjadi pemimpin ke-267 dalam sejarah Gereja Katolik melibatkan 133 kardinal pemilih dari berbagai belahan dunia. Mereka tidak hanya memilih, tetapi juga menjalani serangkaian ritus ketat dan ritual spiritual yang sarat makna, dalam suasana yang benar-benar tertutup dari dunia luar.
1.Sebelum Suara Pertama Dijatuhkan: Tahap Praskrutin :
Segalanya dimulai dari distribusi kertas suara berbentuk persegi panjang. Bagian atas kertas bertuliskan kalimat Latin, sementara bagian bawahnya kosong untuk menuliskan nama kandidat. Tiap kardinal mendapat dua atau tiga lembar. Tiga kardinal ditunjuk sebagai penghitung suara (scrutineer), tiga lainnya sebagai pembawa suara untuk yang sakit (infirmarii), dan tiga sisanya sebagai verifikator (reviser).
Setelah semua non-pemilih seperti sekretaris dan petugas liturgi meninggalkan ruangan, pintu Kapel Sistina ditutup rapat. Inilah momen ketika dunia benar-benar terputus dari proses yang akan menentukan siapa pemimpin spiritual berikutnya.
2. Proses Pemilihan: Ikrar dan Keheningan Suci :
Satu per satu, para kardinal menuliskan nama pilihannya, mengangkat kertas tersebut tinggi-tinggi, dan mengucapkan sumpah dalam bahasa Italia:
"Saya memanggil Kristus Tuhan sebagai saksi, yang akan menghakimi saya, bahwa suara saya ini saya berikan kepada orang yang menurut saya, sesuai kehendak Tuhan, harus terpilih."
Lalu, suara itu dijatuhkan ke dalam cawan perak di atas altar.
Jika ada kardinal yang tidak bisa berjalan ke altar, suaranya akan dibawa oleh scrutineer. Bagi yang benar-benar sakit dan tidak bisa hadir, tiga infirmarii akan mengunjungi kamar mereka dengan kotak suara khusus yang dikunci dan diawasi ketat.
3. Perhitungan Suara: Ketelitian Tak Berkompromi :
Setelah semua suara terkumpul, cawan diguncangkan. Jumlah surat suara dihitung ulang. Jika jumlah tidak cocok dengan jumlah pemilih, seluruh suara dibakar dan proses dimulai kembali. Bila cocok, maka setiap suara dibaca dan dicatat. Jika ada suara dobel dengan nama sama, dihitung satu. Jika dua nama berbeda tertulis di surat suara yang sama, keduanya batal.
Setelah penghitungan selesai, surat suara ditusuk dengan jarum di kata “Eligo” dan dirangkai dengan benang, lalu disimpan. Semua ini dilakukan di hadapan para kardinal dalam keheningan dan kekhusyukan penuh.
4. Sinyal dari Langit: Asap Hitam atau Putih :
Ballot-ballot yang sudah dihitung kemudian dibakar dalam tungku besi tuang yang sudah digunakan sejak tahun 1939. Di sinilah simbol paling dikenal dari konklaf terlihat: asap hitam berarti belum ada Paus terpilih, sementara asap putih menandakan dunia boleh bersukacita — Paus baru telah terpilih.
Sebuah tungku kedua, yang dipasang sejak tahun 2005, mengalirkan asap ini ke cerobong yang bisa dilihat langsung dari Lapangan Santo Petrus, tempat ribuan umat menanti dalam harap dan doa.
5. Saat Terpilih: Menangis di Ruang Kecil :
Ketika seorang kardinal mencapai dua pertiga suara (minimal 89 dari 133), maka ia resmi menjadi Paus. Ia akan dibawa ke sebuah ruangan kecil bernama “Room of Tears” ruang tangis. Di sinilah, dengan emosional, sang Paus mengenakan jubah putih untuk pertama kalinya.
6. Jika Tak Ada yang Terpilih
Pemungutan suara berlangsung empat kali sehari. Bila dalam tiga hari belum ada yang terpilih, konklaf dihentikan sehari untuk doa dan refleksi. Setelah 21 pemungutan suara tanpa hasil, hanya dua kandidat dengan suara terbanyak yang bisa dipilih namun keduanya tidak diperkenankan memilih.
Proses pemilihan Paus bukanlah semata urusan politik gereja, tetapi ritual penuh makna spiritual, simbolis, dan historis. Dari sumpah di altar hingga asap putih di langit Roma, konklaf adalah gabungan unik antara keheningan suci dan kekuatan keputusan global yang membentuk masa depan umat Katolik dunia.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Ribuan Umat Menanti Paus Baru, Konklaf Masih Berlangsung
Editor: Redaksi TVRINews
