Penulis: Fityan
TVRINews - Vatikan, Italia
Pertemuan Kepala Negara Dunia di Tengah Duka: Trump, Biden, Zelenskyy, Von der Leyen, Macron, hingga Lula Hadir, Risiko Ketegangan Diplomatik Meningkat di Pemakaman Paus Francis
Seluruh mata dunia tertuju ke Vatikan akhir pekan ini. Namun bukan semata karena duka mendalam atas wafatnya Paus Francis, melainkan karena gelombang ketegangan diplomatik yang mengintai di balik prosesi pemakaman. Pemimpin negara-negara besar dunia akan berkumpul di Basilika Santo Petrus, namun kedatangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi pusat perhatian dan kekhawatiran.
Kunjungan internasional pertama Trump pada periode keduanya sebagai presiden terjadi di momen yang penuh gejolak: perang di Ukraina dan Gaza yang belum usai, ketegangan perdagangan dengan Uni Eropa dan China, serta kebijakan imigrasi Amerika Latin yang menuai kritik global. Di tengah suasana berkabung, kehadiran Trump justru dianggap bisa memicu drama diplomatik, terutama karena sejumlah pemimpin dunia yang hadir memiliki hubungan tegang dengannya.
Di antara tokoh penting yang hadir adalah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang hubungan terakhirnya dengan Trump berakhir dengan ketegangan di Gedung Putih. Saat itu, Trump menuduh Zelenskyy “berjudi dengan risiko Perang Dunia Ketiga” dan menganggapnya tidak sopan. Kini, bila Zelenskyy jadi datang, pemakaman Paus bisa menjadi pertemuan pertama mereka sejak peristiwa itu.
Mantan Presiden AS, Joe Biden, yang dikenal sebagai Katolik taat dan pernah menganugerahkan Presidential Medal of Freedom kepada Paus Francis, juga akan hadir. Hubungan Biden dan Trump yang sangat tidak harmonis membuat situasi semakin sensitif.
Di sisi lain, Presiden Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen juga dijadwalkan hadir. Trump pernah menyebut Uni Eropa sebagai blok “yang dibentuk untuk menipu Amerika Serikat”. Mereka belum pernah bertemu langsung dalam isu perang dagang terbaru, dan pemakaman ini bisa jadi momen tak terduga untuk itu.
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer yang telah menjalin komunikasi hangat dengan Trump, juga hadir, memberikan sedikit harapan akan suasana lebih tenang. Presiden Polandia Andrzej Duda sekutu dekat Trump dari masa lalu pun ikut hadir, menambah warna di tengah peta kekuatan Eropa yang hadir.
Namun tidak semua kehadiran memberi angin segar. Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva, yang mengecam tarif global Trump baru-baru ini, dipastikan datang. Sementara dari China, tidak ada pejabat tinggi yang dikirim, mengisyaratkan ketegangan yang belum mereda dengan Washington.
Dari Rusia, hanya Menteri Kebudayaan Olga Lyubimova yang hadir, bukan pejabat senior lain, menandakan minimnya peluang negosiasi damai atas perang di Ukraina. Sementara dari Israel, hanya duta besar untuk Vatikan yang dikirim, tidak seperti saat pemakaman Paus Yohanes Paulus II pada 2005 yang dihadiri presiden. Sikap ini dinilai sebagai bentuk ketegangan akibat kritik keras Paus Francis atas agresi Israel di Gaza.
Pemerintah Italia sendiri telah menetapkan pengamanan superketat, dengan ribuan polisi, jet NATO, dan penembak jitu mengelilingi kawasan Vatikansemua demi mengantisipasi potensi benturan politik di momen duka ini.
Menariknya, meski Trump telah mengatakan akan menggelar sejumlah pertemuan bilateral, ia tidak akan berada di barisan depan para pemimpin dunia. Posisi terdepan akan diberikan kepada keluarga kerajaan Katolik seperti Raja Felipe VI dan Ratu Letizia dari Spanyol, disusul oleh perwakilan kerajaan non-Katolik, termasuk Pangeran William. Trump akan berada di barisan selanjutnya bersama pemimpin negara lainnya.
Namun seperti biasa, faktor yang paling tak bisa diprediksi tetaplah Trump sendiri. Pada pemakaman mantan Presiden Jimmy Carter Januari lalu, Trump sempat duduk berdampingan dengan Barack Obama dan berbincang santai namun kemudian mengkritik keputusan pengibaran bendera setengah tiang yang bertepatan dengan pelantikannya. Maka, banyak pihak khawatir, apakah Trump akan kembali menunjukkan sikap kontroversial, atau justru tampil kalem demi menghormati prosesi keagamaan ini.
Di tengah jutaan mata yang menyaksikan secara langsung dan melalui siaran global, Vatikan tak hanya menjadi tempat perpisahan dengan pemimpin Gereja Katolik, tetapi juga panggung diplomatik global yang penuh jebakan, dari Washington berada di tengah ruangan.
Baca Juga: Jelang Pemakaman Paus Fransiskus : Santa Maria Maggiore, Mahakarya Abadi Roma
Editor: Redaktur TVRINews
