Penulis: Fityan
TVRINews – Roma
Menolak Kemegahan, Paus Fransiskus Pilih 'Lemari Lilin' di Santa Maria Maggiore sebagai Peristirahatan Terakhirnya Sebuah Simbol Kesederhanaan dan Cinta pada Bunda Maria
Ketika sebagian besar pemimpin besar dunia dimakamkan dalam kemegahan dan upacara kenegaraan, Paus Fransiskus memilih jalan sebaliknya. Ia menolak disemayamkan di bawah Basilika Santo Petrus seperti para pendahulunya. Sebaliknya, ia memilih sebuah tempat sederhana di Basilika Santa Maria Maggiore sebuah tempat yang ia kunjungi lebih dari 100 kali selama masa kepausannya.
Basilika kuno dari abad ke-4 ini berdiri megah di Bukit Esquilino, salah satu dari tujuh bukit kuno Roma. Letaknya tak jauh dari Koloseum dan Stasiun Termini, di sebuah kawasan yang dulunya merupakan tanah pemakaman budak pada masa Kekaisaran Romawi.
Sejak masih menjadi imam dan kemudian kardinal, Jorge Mario Bergoglio nama asli Paus Fransiskus selalu menyempatkan diri mampir ke Santa Maria Maggiore saat berada di Roma. Bahkan, pada pagi setelah terpilih menjadi paus pada Maret 2013, ia secara diam-diam keluar dari Vatikan untuk berdoa di sana, menandai hubungan batin yang dalam dengan tempat itu.
Dalam percakapan yang diterbitkan setahun setelahnya melalui buku El Sucesor, jurnalis Spanyol Javier Martínez-Brocal mengungkap bahwa Paus Fransiskus secara pribadi memilih sebuah ceruk kecil di sisi kiri basilika dekat Kapel Paolina sebagai lokasi pemakamannya. Ceruk itu sebelumnya hanyalah tempat penyimpanan lilin. “Saat melihat tempat itu, Paus hanya berkata, ‘Inilah tempatku, aku ingin dimakamkan di sini’,” ujar Martínez-Brocal.
Tak akan ada batu nisan mewah. Seperti tercantum dalam surat wasiat terakhirnya, makam itu hanya akan diberi nama “Franciscus” dalam bahasa Latin. Sebuah pernyataan hening namun kuat tentang kesederhanaan dan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kepemimpinannya.
Basilika Santa Maria Maggiore sendiri menyimpan banyak keajaiban artistik dan spiritual. Mosaik biru-emas di langit-langitnya disebut-sebut dibawa dari Amerika oleh Christopher Columbus membuat siapa pun yang masuk terkesima. Di dalamnya juga terdapat kapel rancangan Michelangelo serta makam tokoh besar seni Italia, Gian Lorenzo Bernini.
Tidak hanya itu, kisah pribadi Paus Fransiskus tentang perjumpaannya dengan seorang pencopet yang nyaris menjebaknya di basilika ini, menjadi kenangan tak terlupakan yang ia ceritakan dengan senyum ringan namun penuh makna. "Saya takkan pernah melupakannya," katanya.
Pada hari pemakamannya, peti kayu sederhana Paus Fransiskus akan dibawa ke Santa Maria Maggiore. Ia meninggalkan kemegahan misa pemakaman di Lapangan Santo Petrus untuk melakukan perjalanan terakhirnya menuju tempat yang penuh makna ini. Di sana, bukan para pemimpin dunia, melainkan kaum miskin dan papa Roma yang akan memberikan penghormatan terakhir.
"Beliau memancarkan damai dari setiap pori tubuhnya," tulis seorang dokter asal Jerman dalam buku penghormatan di basilika. Sementara seorang peziarah dari Meksiko, Stephanie Polco, mengatakan, "Saya bisa mengerti mengapa Paus Fransiskus ingin dimakamkan di sini. Tempat ini sungguh indah."
Santa Maria Maggiore bukan hanya sekadar tempat bersejarah. Kini, ia menjadi simbol dari warisan spiritual Paus Fransiskus—seorang pemimpin yang memilih keheningan, kerendahan hati, dan kedekatan dengan rakyatnya sebagai jejak terakhir di dunia.
Baca Juga: Jejak Keluarga Paus Fransiskus: Dari Imigran Italia ke Tahta Vatikan
Editor: Redaktur TVRINews
