
PM Malaysia Anwar Ibrahim (Foto: AP News)
Penulis: Fityan
TVRINews – Kuala Lumpur, Malaysia
PM Malaysia Anwar Ibrahim ingin ASEAN bersatu hadapi tekanan tarif AS dan krisis Myanmar, serukan dialog langsung dengan Trump demi kestabilan ekonomi kawasan.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyerukan agar negara-negara Asia Tenggara bersatu menghadapi tantangan tarif dagang dari Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Dalam pembukaan KTT tahunan ASEAN, Senin (11/7), Anwar mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengupayakan pertemuan langsung antara ASEAN sebagai satu blok dengan Presiden Trump untuk membahas dampak kebijakan tarif tersebut.
“Kedamaian, stabilitas, dan kemakmuran ASEAN selama ini bertumpu pada tatanan internasional yang terbuka, inklusif, dan berbasis aturan. Kini, fondasi itu mulai runtuh akibat tindakan sepihak,” tegas Anwar dalam pidatonya, dikutip dari Associated Press.
Tarif yang diberlakukan AS terhadap ekspor dari kawasan Asia Tenggara sangat bervariasi—dari 10% untuk Singapura hingga 49% untuk Kamboja. Anwar menyebut ASEAN telah membentuk satuan tugas khusus untuk mengoordinasikan respons terhadap tarif tersebut, sembari tetap membuka jalur negosiasi bilateral oleh masing-masing negara anggota.
Sebagai ketua ASEAN tahun ini, Malaysia menekankan pentingnya kesatuan regional dalam menghadapi dinamika global, termasuk ketegangan dagang dan konflik internal Myanmar yang telah berlangsung empat tahun.
Dorong Kerja Sama Baru dan Penanganan Krisis Myanmar :
Dalam momentum KTT ini, ASEAN juga dijadwalkan menggelar pertemuan trilateral bersejarah dengan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang dan Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang terdiri dari enam negara Timur Tengah. Pertemuan ini diharapkan menjadi langkah awal memperluas kerja sama ekonomi demi meredam tekanan global.
Sementara itu, krisis Myanmar tetap menjadi duri dalam daging bagi ASEAN. Anwar mengungkapkan bahwa Malaysia telah melakukan pendekatan "diam-diam" dengan menginisiasi kelompok penasihat informal yang dipimpin oleh mantan PM Thailand Thaksin Shinawatra. Ia bahkan telah bertemu dengan pimpinan junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, dan juga berdialog virtual dengan oposisi dari Pemerintahan Persatuan Nasional (NUG).
“Mungkin jembatan itu rapuh, tapi dalam upaya perdamaian, jembatan yang rapuh lebih baik daripada jurang yang kian melebar,” kata Anwar.
Namun, pakar kebijakan dari Institute of Strategic and International Studies Malaysia, Thomas Daniel, menilai ASEAN belum memiliki daya tekan yang cukup untuk mendorong rekonsiliasi politik. “ASEAN belum pada tahap mampu memfasilitasi dialog politik antara pihak-pihak yang bertikai. Kondisinya masih terlalu rumit,” ujarnya.
Desakan Filipina soal Laut China Selatan :
Isu ketegangan Laut China Selatan juga kembali mengemuka. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. mendesak agar kode etik yang tengah dirundingkan antara ASEAN dan China segera disahkan dan bersifat mengikat secara hukum.
“Kami menekankan urgensi untuk segera menyepakati kode etik yang mengikat secara hukum di Laut China Selatan demi menjaga stabilitas dan mencegah salah kalkulasi,” ujar Marcos.
KTT ASEAN kali ini juga meluncurkan visi 20 tahun ke depan untuk memperdalam integrasi ekonomi dan sosial di kawasan, di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks.
Baca juga: Trump Hantam Asia dengan Tarif Impor: Jepang Terkejut, Asia Terpukul
Editor: Redaksi TVRINews
