TVRINews – Nabatieh
Ketegangan di Lebanon Utara kembali memuncak di tengah upaya gencatan senjata yang rapuh antara pihak-pihak yang bertikai.
Serangan militer Israel di wilayah selatan Lebanon dilaporkan menewaskan sedikitnya 16 orang pada Sabtu 20 juni 2026, meskipun terdapat laporan mengenai adanya kesepakatan gencatan senjata baru yang bertujuan meredam eskalasi kekerasan regional.
Badan Pertahanan Sipil Lebanon menyatakan bahwa tim penyelamat telah mengevakuasi 16 jenazah dan 12 orang terluka ke rumah sakit setempat. Proses evakuasi tersebut telah berlangsung sejak dini hari di Distrik Nabatieh menyusul serangkaian serangan udara yang terus berlanjut di wilayah tersebut.
Salah satu insiden paling mematikan terjadi di kota Barish, Distrik Tyre, di mana sebuah bangunan tempat tinggal berlantai tiga hancur terkena gempuran udara. Seorang pejabat desa setempat kepada Reuters mengonfirmasi bahwa serangan tersebut menewaskan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua anak mereka.
Ketidakpastian Gencatan Senjata
Situasi di lapangan tetap diselimuti ketidakpastian mengenai status gencatan senjata yang sedianya berlaku mulai Jumat malam. Meskipun ada laporan mengenai kesepakatan yang ditengahi secara internasional, bentrokan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah terus terjadi.
Militer Israel menyatakan bahwa operasi militer tersebut dilakukan sebagai respons atas peluncuran proyektil dari wilayah Lebanon oleh kelompok milisi yang didukung Iran.
Hassan Fadlallah, seorang anggota parlemen dari Hizbullah, menegaskan posisi kelompoknya terkait wacana penghentian permusuhan.
“Bagi kami, yang terpenting adalah musuh benar-benar tidak mencoba menyerang negara dan desa-desa kami, atau berusaha menduduki posisi baru,” ujar Fadlallah dalam sebuah pernyataan resmi.
Dampak pada Diplomasi Regional
Eskalasi kekerasan ini telah memicu pembatalan pembicaraan tingkat tinggi di Swiss yang dijadwalkan untuk merinci kesepakatan sementara antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan yang ditandatangani awal pekan ini mencakup penghentian permusuhan di seluruh front, termasuk Lebanon, serta kerangka kerja untuk program nuklir Iran.
Pemerintah Israel sendiri telah menyatakan keraguan mendalam terhadap perjanjian tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di Lebanon selatan hingga ancaman terhadap keamanan nasional Israel dapat dihilangkan sepenuhnya.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa konsultasi melalui mediator tetap berlanjut. Baghaei menekankan bahwa penundaan pertemuan di Swiss tidak bersifat mendesak, mengingat kesepakatan awal telah ditandatangani secara digital.
Perjanjian interim ini memberi waktu 60 hari bagi para negosiator untuk menyusun kesepakatan nuklir yang komprehensif. Namun, para pengamat memperingatkan bahwa kompleksitas isu tersebut mengingat kesepakatan nuklir 2015 membutuhkan waktu 18 bulan untuk dinegosiasikan membuat target waktu tersebut sangat menantang.
Hingga saat ini, konflik yang telah merenggut setidaknya 7.000 jiwa ini masih menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global, terutama setelah sempat terganggunya jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz akibat ketegangan yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir.










