
Foto : The Guardion
Penulis: Fityan
TVRINews - PORT SUDAN
Serangan Udara Ketiga Berturut-turut Hantam Jantung Kekuasaan Pemerintah Sudan, Kota yang Selama Ini Aman Kini Dilanda Ketakutan dan Kobaran Api
Ketegangan di Sudan timur meningkat tajam setelah serangan drone menghantam bandara sipil dan markas militer di Port Sudan pada rabu dini hari (7/5). Serangan ini menjadi yang ketiga dalam tiga hari berturut-turut, mengindikasikan eskalasi serius dalam konflik yang telah melanda negara itu sejak April 2023.
Ledakan keras terdengar saat fajar menyingsing. Asap pekat membumbung dari berbagai titik di kota pelabuhan tersebut, termasuk dari arah pelabuhan utama dan depo bahan bakar di bagian selatan kota yang padat penduduk. Seorang koresponden AFP melaporkan bahwa satu drone menghantam bagian sipil Bandara Port Sudan, dua hari setelah pangkalan militernya lebih dulu diserang.
“Bandara langsung menghentikan semua operasional penerbangan,” kata seorang pejabat bandara kepada AFP. Sumber militer mengonfirmasi bahwa drone lainnya juga menargetkan markas utama angkatan darat di pusat kota tidak jauh dari kediaman Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, panglima militer Sudan yang kini sedang berperang melawan mantan wakilnya, Mohamed Hamdan Dagalo (alias Hemedti), pemimpin Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Satu serangan lainnya juga dilaporkan menghantam depo bahan bakar di dekat pelabuhan selatan, wilayah yang kini menampung ribuan pengungsi serta menjadi pusat operasional lembaga kemanusiaan PBB dan LSM internasional. Kesaksian warga di utara kota menyebutkan tembakan anti-pesawat dari basis militer terdengar sepanjang pagi.
Port Sudan sebelumnya dikenal sebagai satu-satunya tempat aman di tengah kekacauan nasional. Namun, dengan gempuran terbaru ini, harapan akan zona aman pun semakin tipis. Apalagi, hampir seluruh bantuan kemanusiaan untuk Sudan negara yang kini menghadapi kelaparan ekstrem dan krisis pangan yang mengancam 25 juta jiwa masuk melalui kota ini.
Seorang penumpang yang berada di bandara saat serangan terjadi mengungkapkan bahwa beberapa bangunan terbakar akibat ledakan. Sumber dari militer menyebut serangan itu juga menyasar depo bahan bakar yang berada dalam kompleks bandara.
Sejak kehilangan sebagian besar wilayah Khartoum pada Maret lalu, RSF gencar menggunakan drone untuk menyerang jauh ke wilayah yang dikuasai militer. Para ahli menilai taktik ini memperlihatkan jangkauan militer RSF yang luas serta menyulitkan jalur pasokan tentara nasional. RSF diyakini menggunakan drone buatan sendiri maupun yang canggih, yang menurut tentara Sudan didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA).
Sementara itu, Mahkamah Internasional (ICJ) menolak gugatan Sudan terhadap UEA atas tuduhan keterlibatan dalam genosida. Pengadilan menyatakan tidak memiliki yurisdiksi, mengingat adanya "reservasi" UEA terhadap Konvensi Genosida PBB sejak 2005. Kementerian Luar Negeri Sudan mengatakan pihaknya menghormati keputusan tersebut.
Krisis di Sudan kini telah menewaskan puluhan ribu jiwa, mengusir lebih dari 13 juta orang dari tempat tinggalnya, dan memecah negara menjadi dua kekuasaan: militer menguasai pusat, utara, dan timur, sementara RSF menguasai sebagian besar wilayah Darfur dan bagian selatan.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Pakistan Siap Gempur Balik India
Editor: Redaksi TVRINews
