
Foto : The Guardian
Penulis: Fityan
TVRINews – ISLAMABAD
Serangan Udara India Tewaskan 31 Warga Sipil, Termasuk Anak-Anak. Pakistan Geram dan Beri Mandat Penuh pada Militer untuk Membalas Sesuai Waktu dan Tempat Pilihan
Suasana tegang kembali menyelimuti kawasan Asia Selatan setelah Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, dalam pidato tengah malamnya yang penuh emosi berjanji akan membalas “setiap tetes darah” warganya yang gugur akibat serangan udara India.
Sebanyak 31 orang, termasuk perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan rudal yang dilancarkan India ke sembilan titik di wilayah Kashmir yang dikuasai Pakistan dan Provinsi Punjab, Rabu malam (waktu setempat). Pakistan menyebut serangan ini sebagai aksi yang “menyalakan kobaran neraka” di wilayahnya.
“Ini bukan sekadar agresi. Ini serangan terhadap martabat dan kedaulatan kami. Kami tidak akan tinggal diam. Kami akan membalas tiap tetes darah syuhada kami,” ucap PM Sharif dalam siaran nasional.
Pemerintah Pakistan menyatakan militer kini telah diberikan mandat penuh untuk melakukan aksi balasan terhadap India, pada “waktu, tempat, dan cara yang akan dipilih sendiri” oleh pihak militer. Wakil PM sekaligus Menteri Luar Negeri, Ishaq Dar, mempertegas bahwa Pakistan akan mempertahankan kehormatannya “dengan segala cara yang diperlukan”.
Dar menyebutkan bahwa serangan ini terjadi setelah Pakistan menahan diri dalam menghadapi tuduhan India terkait serangan teroris di Kashmir India akhir bulan lalu, yang menewaskan 25 turis Hindu dan seorang pemandu lokal. India menuding serangan tersebut didalangi oleh kelompok militan Islamis yang beroperasi dari wilayah Pakistan.
India sendiri mengklaim bahwa serangan udara mereka bersifat “proporsional dan tidak memicu eskalasi”, serta hanya menargetkan kamp pelatihan militan Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Mohammed. Namun, Pakistan membantah keberadaan kelompok militan di wilayah yang dihantam serangan dan menyebutnya sebagai “alasan yang dicari-cari”.
Serangan rudal ini menandai kali pertama sejak Perang India-Pakistan 1971 bahwa India meluncurkan serangan langsung ke wilayah Punjab Pakistan, provinsi dengan nilai strategis tinggi secara politik dan militer. Setidaknya 16 dari total korban tewas berasal dari kawasan ini.
Dalam wawancara eksklusif dengan media internasional, Dar juga menyampaikan kekecewaannya terhadap respons komunitas global yang dinilai lamban dan pasif. “Kami sudah meminta bantuan investigasi independen, tapi belum ada yang menjawab,” ungkapnya.
Di sisi lain, pemerintah India tetap bersikeras bahwa mereka hanya menargetkan pelaku kekerasan.
Ketegangan ini langsung berdampak pada ribuan warga di sekitar perbatasan. Di sisi India, setidaknya 12 warga sipil dilaporkan tewas akibat baku tembak lintas batas. Di wilayah Pakistan, sedikitnya lima korban meninggal akibat serangan artileri India. Rumah sakit di perbatasan Poonch merawat puluhan korban luka, sementara ribuan warga di garis depan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Reaksi dunia internasional pun mulai bermunculan. Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Iran, dan Uni Emirat Arab menyerukan de-eskalasi. PM Inggris Keir Starmer menyatakan bahwa pihaknya “aktif mendorong dialog dan perlindungan warga sipil”. Mantan Presiden AS Donald Trump juga turut angkat suara: “Saya ingin mereka menghentikan konflik ini. Kami bersahabat dengan keduanya dan berharap ini segera berakhir.”
Namun, sejarah menunjukkan bahwa konflik antara dua negara bersenjata nuklir ini tak mudah diredakan. Kashmir, wilayah sengketa utama, telah menjadi sumber konflik selama lebih dari 75 tahun sejak India dan Pakistan merdeka dari Inggris. Tiga perang besar telah terjadi, dan kini dunia kembali mengkhawatirkan kemungkinan keempat.
Editor : Redaksi TVRINews
Baca Juga: Konklaf: Bagaimana Seorang Paus Dipilih..?
Editor: Redaksi TVRINews
