
Foto : The Guardian
Penulis: Fityan
TVRINews – Tokyo, Jepang
Krisis biaya hidup dan kegagalan menekan harga beras membuat dukungan publik terhadap Perdana Menteri Ishiba anjlok ke titik terendah, hanya berminggu-minggu sebelum pemilu penting.
Harga beras yang terus meroket di Jepang tak hanya membebani dompet rakyat, tapi juga mengancam posisi Perdana Menteri Shigeru Ishiba. Jelang pemilu i yang tinggal hitungan minggu, popularitas Ishiba dan partainya, Partai Demokrat Liberal (LDP), terjun bebas di tengah krisis biaya hidup yang kian menggigit.
Survei terbaru yang dirilis Kyodo News menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kabinet Ishiba hanya mencapai 27,4%, terendah sejak ia menjabat pada Oktober lalu. Lebih dari 87% responden menyatakan langkah pemerintah mengendalikan harga beras "tidak memadai", dan mayoritas mendesak pemotongan pajak konsumsi yang kini mencapai 10%.
Meski beras merupakan makanan pokok bagi masyarakat Jepang, pemerintah dinilai lamban dan tidak efektif dalam menangani lonjakan harga. Upaya merilis 300.000 ton beras dari cadangan nasional sejak Maret lalu tak mampu menurunkan harga secara signifikan. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan harga rata-rata 5 kg beras di supermarket mencapai ¥4.214 ($29) per awal Mei, hampir dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu.
Menanggapi tekanan publik, pemerintah pekan lalu mengumumkan akan menggandakan pelepasan stok cadangan menjadi total 600.000 ton hingga Juli. Sebagian pasokan ini bahkan akan langsung disalurkan ke toko untuk mempercepat distribusi dan menekan praktik penimbunan oleh distributor.
Namun, langkah ini tampaknya belum cukup meredam kekecewaan publik. Lebih dari 74% responden juga pesimistis negosiasi perdagangan pangan antara Jepang dan Amerika Serikat akan menghasilkan keuntungan bagi Jepang.
Situasi ini dimanfaatkan oleh oposisi internal LDP dan partai-partai pesaing yang semakin vokal menyerukan pengunduran diri Ishiba. Setelah kehilangan mayoritas di majelis rendah tahun lalu, kekalahan di majelis tinggi bisa menjadi akhir dari kepemimpinan Ishiba yang belum genap setahun.
Kondisi kian pelik saat sejumlah restoran dan konsumen mulai beralih ke beras impor yang lebih murah. Untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, Jepang mengimpor beras dari Korea Selatan pada April lalu. Supermarket besar seperti Aeon pun akan mulai menjual beras Calrose asal AS bulan depan, dengan harga 10% lebih murah dari beras lokal.
Dengan waktu yang semakin sempit dan tekanan publik yang menguat, Ishiba kini dihadapkan pada dilema politik dan ekonomi yang rumit. Apakah ia mampu membalikkan keadaan, atau justru akan tumbang oleh krisis harga beras?
Baca Juga: Menteri Pertanian Jepang Mundur Usai Ucapan Kontroversial soal Beras
Editor: Redaktur TVRINews
