
Macron Tolak Keras Ide Trump Soal Iran: "Jangan Ulangi Irak & Libya!"
Penulis: Fityan
TVRINews – Kanada
Presiden Prancis Emmanuel Macron peringatkan kekacauan global jika Iran diintervensi militer, membantah keras retorika Donald Trump yang menyasar Teheran. Mengapa masa lalu jadi bayangan kelam bagi masa depan ?
Di tengah ketegangan yang memanas di Timur Tengah, sebuah perbedaan pandangan mencolok muncul di antara dua pemimpin dunia Barat: Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mantan Presiden AS Donald Trump. Jika Trump belakangan ini gencar melontarkan ancaman dan tuntutan "penyerahan tanpa syarat" kepada Iran, Macron justru menyuarakan peringatan keras yang berlandaskan pelajaran pahit dari sejarah.
Pada Selasa kemarin, Trump melalui platform Truth Social, kembali menargetkan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Ia menulis, "Kita tahu persis di mana yang disebut ‘Pemimpin Tertinggi’ bersembunyi. Dia adalah sasaran empuk, tetapi aman di sana Kami tidak akan menyingkirkannya (membunuh!), setidaknya untuk saat ini." Trump juga menuntut Teheran "menyerah tanpa syarat" dalam konflik yang kian memanas dengan Israel. Retorika ini seolah membuka peluang bagi opsi penggantian rezim di Iran, bahkan dengan intervensi militer.
Namun, di hari yang sama, Macron dengan tegas menyuarakan penolakan terhadap gagasan tersebut. Meskipun ia sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir, Macron menekankan, "Kesalahan terbesar adalah menggunakan serangan militer untuk mengubah rezim karena itu akan menjadi kekacauan."
Pernyataan Macron bukan tanpa dasar. Ia merujuk pada dua bencana geopolitik yang diawali oleh intervensi militer Barat: invasi Irak pada tahun 2003 yang menggulingkan Saddam Hussein, dan intervensi di Libya pada tahun 2011 yang mengakhiri rezim Muammar Gaddafi. Kedua peristiwa itu, alih-alih membawa stabilitas, justru melahirkan kekacauan berkepanjangan, perang saudara, dan munculnya kekuatan ekstremis.
"Apakah ada yang berpikir bahwa apa yang dilakukan di Irak pada tahun 2003 adalah ide yang bagus? Apakah ada yang berpikir bahwa apa yang dilakukan di Libya dekade berikutnya [pada tahun 2011] adalah ide yang bagus? Tidak!" tegas Macron, dikutip dari berbagai laporan media internasional.
Macron menambahkan bahwa kekacauan di Iran akan berdampak luas pada negara-negara tetangga yang sudah rapuh. "Saya juga memikirkan teman-teman kita di kawasan itu, di Irak, Lebanon, dan di tempat lain. Kita harus membantu mereka mengurangi segala sesuatu yang, memang, mengancam keamanan mereka, tetapi mereka membutuhkan segalanya kecuali kekacauan," jelasnya.
Alih-alih konfrontasi, Macron menyerukan kembalinya jalur diplomasi. "Tanggung jawab kita adalah mengembalikan diskusi secepat mungkin untuk dapat menetapkan arah lagi pada pertanyaan nuklir dan balistik," ujarnya, menyerukan agar program nuklir Iran kembali diawasi secara internasional dan arsenal rudal balistiknya dikurangi.
Perbedaan pandangan ini bahkan memicu perselisihan pribadi antara kedua pemimpin. Saat Macron meninggalkan KTT G7 di Kanada lebih awal untuk mengupayakan gencatan senjata antara Israel dan Iran, Trump bereaksi keras di Truth Social. "Salah! Dia tidak tahu mengapa saya sekarang dalam perjalanan ke Washington," tulis Trump, menambahkan bahwa rencananya "jauh LEBIH BESAR dari itu" dan "entah sengaja atau tidak, Emmanuel selalu salah."
Baca Juga: Ribuan Tentara Korut Dikerahkan ke Rusia: Misi Rahasia Pasukan Kim Jong Un di Garis Depan
Editor: Redaktur TVRINews
