
Komnas Disabilitas Apresiasi Langkah PPIH Madinah Pastikan Jemaah Disabilitas Tak Terpisah dari Pendamping
Penulis: Yosep Novriansyah
TVRINews, Madinah
Komisi Nasional Disabilitas (KND) memberikan apresiasi tinggi kepada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Madinah atas langkah cepat dan responsif mereka dalam memastikan jemaah haji penyandang disabilitas dan lanjut usia tetap didampingi selama proses keberangkatan dari Madinah ke Makkah.
Wakil Ketua KND, Deka Kurniawan, yang melakukan pemantauan langsung di Madinah pada Selasa (20/5), menyebut PPIH menunjukkan empati tinggi dengan berani mengambil langkah di luar standar operasional prosedur (SOP). Salah satunya dengan mencabut nama jemaah dari manifest keberangkatan demi menjaga agar mereka tidak terpisah dari pendamping atau keluarganya.
"Ini bukan sekadar kebijakan administratif, tapi wujud nyata dari kepedulian dan rasa kemanusiaan yang tinggi," ujar Deka. Ia menambahkan, tanpa pendamping, jemaah disabilitas – terutama lansia dengan kondisi seperti demensia – sangat rentan mengalami stres hingga disorientasi.
Sebelumnya, sistem distribusi jemaah oleh delapan perusahaan penyedia layanan haji (syarikah) sempat menimbulkan kekhawatiran. Beberapa jemaah dilaporkan terpisah dari pendamping atau bahkan diberangkatkan lebih dulu, yang berpotensi menyebabkan kebingungan hingga laporan jemaah hilang.
Namun, PPIH Madinah bersama KND bergerak cepat. Mereka melakukan pemetaan risiko dan mitigasi dengan mengelompokkan jemaah rentan di hotel transit. Dari sana, mereka diberangkatkan secara mandiri dalam kelompok kecil bersama pendampingnya.
“Ini tidak tertulis dalam SOP, tapi dilakukan karena ada rasa tanggung jawab dan kemanusiaan yang besar,” imbuh Deka.
Tim PPIH juga melakukan pendataan aktif ke berbagai hotel, menyisir kamar demi kamar untuk memastikan kondisi jemaah, khususnya mereka yang membutuhkan perhatian ekstra. Upaya ini dilakukan guna mencegah jemaah lansia atau disabilitas berangkat tanpa kesiapan fisik dan mental.
Deka menjelaskan bahwa PPIH Madinah melakukan briefing khusus kepada petugas sektor disabilitas dan lansia. Petugas diminta segera memetakan kebutuhan pendampingan dan menyerahkan datanya di hari yang sama.
KND menilai upaya ini sebagai bentuk peningkatan nyata dibandingkan dengan awal musim haji, saat sistem layanan syarikah belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan jemaah rentan.
“Inisiatif seperti menenangkan, memberi makan, hingga memijit jemaah yang mengalami stres adalah bentuk perhatian personal yang sangat berarti. Ini bentuk kemajuan yang harus diapresiasi,” ujar Deka.
KND berharap, pengalaman tahun ini menjadi acuan penting bagi perbaikan layanan haji tahun-tahun mendatang, khususnya dalam perencanaan oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH).
“Tema haji ramah disabilitas dan lansia tidak boleh hanya menjadi slogan. Ia harus menjadi panduan nyata sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan,” pungkasnya.
Langkah-langkah yang diambil PPIH Madinah menunjukkan bahwa pelayanan haji inklusif sedang diwujudkan secara konkret di lapangan—hari demi hari, demi memastikan ibadah yang aman, nyaman, dan manusiawi bagi semua kalangan.
Baca Juga: 85 Warga Gaza Tewas , Bantuan Masuk Tapi Tak Sampai ke Rakyat
Editor: Redaktur TVRINews
