
Foto : AP News
Penulis: Fityan
TVRINews - DEIR AL-BALAH, Jalur Gaza
Di tengah tekanan global, Israel tetap menggempur Gaza. Bantuan yang dijanjikan masuk, namun terhambat prosedur militer dan tak menjangkau warga yang kelaparan.
Israel melanjutkan serangan militer besar-besaran di Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 85 warga Palestina dalam rentetan serangan udara terbaru pada Selasa (20/5). Di saat yang sama, Israel mulai mengizinkan masuknya truk bantuan kemanusiaan, namun distribusinya terhambat, dan warga Gaza yang kelaparan belum mendapatkannya.
Meski puluhan truk bantuan berisi tepung, susu bayi, hingga obat-obatan dilaporkan telah menyeberang ke Gaza, PBB menyatakan tak satu pun bantuan itu berhasil sampai ke masyarakat. “Prosedurnya panjang, rumit, dan berbahaya. Kami dipaksa bongkar-muat ulang oleh militer Israel dan kehabisan waktu,” kata juru bicara PBB Stéphane Dujarric pada keterangan persnya.
Gempuran Terbaru, Puluhan Tewas Termasuk Anak-anak :
Serangan udara terbaru menghantam rumah keluarga dan sekolah yang dijadikan tempat pengungsian di Gaza utara, menewaskan sedikitnya 22 orang sebagian besar perempuan dan anak-anak. Serangan lainnya di Deir al-Balah dan kamp pengungsi Nuseirat merenggut 28 nyawa. Di Khan Younis, 10 orang tewas akibat serangan bertubi-tubi Israel.
Militer Israel mengklaim menargetkan pusat komando Hamas, dan menyalahkan kelompok itu atas kematian warga sipil karena beroperasi di wilayah padat penduduk.
Bantuan Minim, Tekanan Maksimal :
Israel sebelumnya memblokade penuh Gaza selama hampir tiga bulan. Di bawah tekanan dari negara-negara sekutu, termasuk Inggris dan Kanada, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akhirnya menyetujui masuknya bantuan terbatas. Namun, jumlahnya jauh dari cukup—hanya sekitar 100 truk dalam dua hari, jauh di bawah 600 truk per hari yang biasa masuk saat jeda tempur terakhir.
Netanyahu berdalih bahwa pembukaan akses bantuan adalah hasil dari "keseimbangan antara tekanan dan kebutuhan militer." Namun, gambar kelaparan massal dan kondisi anak-anak yang memburuk terus memicu kecaman global.
Kritik dari Dalam Negeri dan Sanksi dari Luar :
Tak hanya dari luar negeri, kritik tajam juga datang dari dalam Israel. Mantan jenderal dan politisi oposisi Yair Golan menyebut Israel “mulai menjadi negara terbuang di mata dunia” karena membunuh warga sipil tanpa batas. “Negara yang waras tidak membunuh bayi sebagai hobi,” ujarnya lantang di radio nasional.
Netanyahu langsung mengecam pernyataan itu sebagai “hasutan liar” dan menuduh Golan menyebarkan “fitnah antisemit.”
Sementara itu, Inggris mengambil langkah tegas dengan menghentikan perundingan dagang bebas dengan Israel dan menjatuhkan sanksi terhadap pemukim ekstremis di Tepi Barat. Langkah ini disebut sebagai tanggapan atas eskalasi serangan Israel dan minimnya komitmen untuk mengakhiri penderitaan warga sipil Palestina.
Negosiasi Damai Mandek, Israel Tarik Delegasi :
Upaya perundingan gencatan senjata di Doha juga kembali gagal. Israel menarik delegasi tingkat tingginya dari Qatar setelah sepekan tanpa hasil. Perdana Menteri Qatar mengakui masih ada “jurang perbedaan fundamental” antara pihak-pihak yang terlibat.
Sementara itu, Hamas menuduh Israel hanya “pura-pura terlibat” dalam negosiasi, sambil tetap melanjutkan serangan brutal di lapangan.
Perang Berkepanjangan, Korban Terus Bertambah :
Perang di Gaza meletus sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang. Sebagai balasan, Israel meluncurkan serangan besar-besaran yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Dengan bantuan yang belum menyentuh rakyat, tekanan internasional yang membesar, dan jalan damai yang mandek, Gaza terus menjadi saksi penderitaan tanpa akhir.
Baca Juga: Apa Yang Terjadi Dengan Pertanian Jepang?
Editor: Redaktur TVRINews
